RSS

MENANTI PAGI









Aku melihatnya pertama kali di perpustakaan. Saat itu aku sedang bingung mencari literatur untuk persiapan lomba desain grafis. Beberapa buku tebal apa di tanganku, harus kupilih dua saja sesuai peraturan bahwa satu kartu anggota perpustakaan hanya berlaku untuk dua eksemplar buku. Yang lainnya harus kubaca di tempat, kuringkas atau kupinjam untuk difotokopi. Tiba-tiba saja tanganku gemetar menahan beban buku-buku tersebut sehingga buku-buku itu jatuh kelantai. Aku berjongkok untuk memungutnya dan ketika kepalaku mendongak ke arah lorong rak buku di hadapanku, di sana, sekitar lima meter di hadapanku, berdiri seorang gadis semampai, begitu anggun dengan blus biru muda dan rok panjang putih tulang. Rambut tebalnya tergerai indah hingga pinggang. Beberapa detik duniaku berhenti, memaksaku menatap sosok itu hingga aku terkesiap ketika tiba-tiba matanya yang cemerlang menangkap basah tatapanku. Sempat kutangkap rona merah di wajahnya sebelum dia berangsur pergi menyelinap disela-sela rak buku yang lain. Aku mengurungkan niatku untuk mengejarnya, pikiranku kembali kepada buku-buku yang berserakan di lantai perpustakaan. Segera kupungut buku-buku itu, dua kupinjam dan lainnya kubaca di tempat.
Dan sejak itu, setiap kali berada di perpustakaan, aku berharap dapat kembali menjumpainya, dapat melihat sosok anggunnya, dapat melihat senyum manisnya, atau jika nasib baik berpihak padaku, aku ingin bisa berkenalan dengannya. Aku tak berusaha mencari tahu siapa namanya, aku ingin mendengar darinya sendiri siapa namanya.
Kesempatan itu datang ketika aku hendak makan siang di kantin. Nampan ditanganku berisi secangkir  kopi mix dan sepiring nasi pecel, berkeliaran mataku mencari bangku kosong. Ramai sekali kantin pada jam dua belas begini, hampir tak ada tempat duduk bisa kutemukan. Dua orang gadis beranjak dari meja di salah satu sudut kantin, meninggalkan seorang temannya yang baru saja mulai menikmati semangkuk bakso. Aku melangkah ke arah meja tersebut dan meminta ijin kepada gadis tersebut untuk duduk bergabung. Jantungku hampir berhenti ketika dia mendongakkan wajahnya dan mempersilahkan aku duduk.
Perlahan kuletakkan nampanku, duduk tepat dihadapannya. Gelasnya masih penuh dengan jus mangga yang menguning. Sambil makan, aku mereka-reka rencana, apa yang harus aku lakukan setelah ini. Sosok yang berhari-hari aku cari di antara rak-rak buku perpustakaan, sekarang duduk dihadapanku, berdua saja di meja sudut kantin kampus. Hampir separuh isi piringku berpindah ke perut, kutemukan kalimat pembuka yang tepat.
“Sendiri saja?”
“Em, tadi bertiga. Tapi dua temanku tergesa-gesa masuk kuliah lagi jam satu”
“Oh, begitu. Boleh kita kenalan?”, kataku seketika sambil mengulurkan tangan.
“Irin”, jawabnya sambil menyambut uluran tanganku.
Tak kusangka, dibalik sikap anggunnya seolah gunung es yang tak bisa digoyahkan, ternyata dia sangat ramah setelah kami berkenalan. Sangat menyenangkan bercakap-cakap dengannya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya ketika dia bicara ataupun mendengarkan aku berbicara. Hingga waktu satu jam kami lewati di kantin itu.
* * *
Aku tak tahu harus memulai dari mana untuk menyampaikan perasaanku. Irin bercerita tentang kegiatannya selama tiga hari ini di sanggar. Ada binar-binar di mata indahnya setiap kali dia bercerita tentang tari. Dia sangat menyukai kesenian itu, sejak kecil dia ikut sanggar hingga hari ini dia sudah berganti peran sebagai pelatih di sanggar itu. Beberapa kali aku menjemputnya ke sanggar ketika terlambat aku menjumpainya di kampus. Di sana aku  melihat gemulainya menari, melihat kesabarannya membenahi gerakan dari anak-anak kecil yang belajar di sanggar itu. Dan sekali aku berkesempatan melihatnya menari di atas pentas pada acara gebyar seni di kampusku. Hanya satu kata, takjub.
“Bagaimana kuliahmu?”
Tiba-tiba Irin membuyarkan lamunanku kembali dengan pertanyaan itu. Dari tadi aku hanya mendengarkan dia bercerita sambil mengenang kembali hari-hari yang sudah lewat. Aku gugup menjawabnya.
“Kamu kenapa, Ali? Dari tadi diam saja, melamun. Biasanya kamu banyak cerita kalau beberapa hari tidak ketemu aku. Ada apa?”
“Maaf Irin… aku ingin bicara banyak padamu, tapi bukan tentang aktivitasku”
“Lalu tentang apa?”
“Tentang perasaanku”
Akhirnya aku bisa menggiring percakapan ke arah yang kuinginkan. Sekarang kulihat Irin yang terdiam. Tertunduk  sambil sesekali membenahi rambut lebatnya yang tertiup angin. Cantik sekali.
“Aku terjebak perasaan tak tentu, sejak pertama kali melihatmu di perpustakaan waktu itu. Perasaan yang belum pernah kurasakan terhadap siapapun sebelumnya. Ada hasrat untuk bisa selalu bersamamu, ada di dekatmu. Itulah sebabnya tak pernah bisa aku berlama-lama untuk tidak menjumpaimu. Dan kini  aku ingin sampaikan bahwa aku ingin bisa memiliki hatimu. Sepenuhnya dan selamanya”
Lega rasanya bisa kulepaskan semua malam ini. Ada rona merah di pipi Irin. Bibirnya terkatup rapat. Aku mendesah berat melihat Irin tak bergeming. Dia hanya menggelengkan kepala ketika kuminta untuk menggungkapkan perasaannya padaku. Dia hanya tersenyum malu waktu aku katakan bahwa aku akan menunggu jawabannya. Beberapa saat terdiam dalam pikiran masing-masing. Lalu aku pamit untuk pulang karena malam telah larut. Kalau saja boleh, ingin aku tetap di sini hingga Irin mau menyatakan perasaannya. Tapi hingga aku beranjak dari dudukku, tidak juga Irin bergeming. Dan senyum manisnya mengantarku pulang malam itu. Senyum yang akan kujumpai lagi di mimpiku malam ini. Senyum yang kuharapkan akan bisa kumiliki selamanya.
* * *
Ada saja tugas kuliah dalam dua minggu ini yang membuat aku tak berkutik untuk menyempatkan sedikit saja waktuku untuk menjumpai Irin. Belum lagi rasa penasaran tentang jawaban yang akan kudapatkan darinya disaat kami bertemu nanti. Tergesa aku memasuki halaman rumah Irin. Ada debar-debar rindu teramat sangat. Ini waktu terpanjang aku tak melihatnya, sejak aku melukis wajahnya di dalam benakku.
Rasa kecewa seketika menyergapku ketika adiknya menyampaikan bahwa Irin sedang pergi untuk beberapa hari ke depan, dan disampaikannya sepucuk surat dari Irin. Aku melipat surat Irin dalam saku bajuku dan berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang aku diliputi rasa penasaran tentang surat ini. Ada apa gerangan Irin menulis surat segala.
 Sesampainya di rumah, aku segera masuk kamar, lalu kupandangi sampul surat tertulis  namaku itu. Perlahan kubuka dan kuambil lipatan kertas surat di dalamnya. Jantungku berdebar melihat tulisan rapi Irin memenuhi halaman kertas itu. Aku duduk di tempat tidur, bersandar dan mulai membaca surat Irin.
Assalamu’alaikum, Ali.
Maaf jika surat ini mengejutkanmu. Aku tahu kau akan datang untuk menanyakan kembali jawabanku atas perasaanmu dua minggu lalu.
Kalau saja lidahku tak tercekat kelu waktu itu, ingin rasanya aku menyampaikan hal yang sama, tapi entahlah…. Aku tak bisa dan akhirnya aku memilih untuk diam. Dan aku pun menunggumu datang kembali, untuk menyampaikan apa yang kau inginkan.
Tapi Al… ternyata keadaan berubah begitu cepat dalam hitungan waktu yang tak kukira. Seminggu lalu seorang teman  mengajakku mengikuti mentoring agama di salah satu pondok pesantren kota ini. Kebetulan saja jadwal menariku sedang longgar, dan ibuku mendorongku untuk ikut agar aku punya wawasan lain selain menari. Seminggu itu banyak sekali pertentangan bathin yang kualami, atas apa yang selama ini aku jalani dengan apa yang aku dapatkan di sana. Aku benar-benar terhanyut dalam aliran ketentraman yang belum pernah aku alami. Aku jatuh cinta pada syariat-syariat yang kupelajari di sana. Mungkin sama seperti saat kau merasakan jatuh cinta kepadaku, begitu cepat dan pekat menghunus kalbu.
Hidayah itu datang secepat kilat, pada waktu yang tak kutahu, pada tempat yang baru kukenal. Aku memutuskan untuk berhenti dari segala aktivitas menari, karena aku lebih mencintai hijabku. Sejak kukenakan sekedar mengikuti adat aturan pesantren, kini aku justru tak hendak melepasnya lagi. Ada  perasaan tentram di hatiku, aku seolah menemukan hidupku yang baru.
Oleh karena itu, maafkan aku jika aku tak bisa memenuhi inginmu sekarang. Masih banyak hal yang harus kita persiapkan untuk berani menyatukan hati dan rasa. Aku ingin menjadi lebih baik, aku ingin berhijrah sepenuhnya, agar suatu hari nanti di saat waktunya tiba, aku akan menemukan cintaku yang hakiki dengan cara yang benar.
Maafkan aku mengecewakanmu, tapi aku akan sangat berbahagia jika engkau pun memulai mennyiapkan dirimu menuju cinta yang hakiki. Aku tahu kau bisa mencari jalan menuju kesana.
Sekarang kita jaga hati kita masing-masing agar tak terjerumus pada perasaan yang salah. Jika suatu hari nanti kita berjodoh, yakinlah bahwa Alloh akan mempertemukan kita pada waktu yang tepat dengan cara terindah yang Dia rencanakan. Dan seandainya kita tak berjodoh, maka ini sungguh keputusan terbaik untuk tidak menjalin hubungan yang sia-sia.
Selamat berjuang mencari ridho-NYA…wahai Saudaraku.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Dariku : Irin

Aku linglung, tak tahu harus berpegang pada apa, harus bertanya kepada siapa? Keringat membasahi tubuhku selama aku membaca surat ini. Gemetar tanganku mencermati kata demi kata yang ditulis Irin. Air mataku meleleh dipipi, tanpa kutahu apa yang kutangisi. Karena tak mendapatkan Irin hari ini? Atau karena yakin bahwa aku juga sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangannya? Ada asa tergantung di sana. Ya…..asa yang sebenarnya bisa kuraih jika aku mau bersabar dengan waktu dan keadaan.  Perlahan aku terbaring, terlelap dalam tidur, sambil masih mendekap surat Irin di dadaku. Mencoba menerima  dengan iklas, dan merelakan untuk menggantungkan mimpiku.
Pagi yang kunanti datang begitu cepat. Gema shubuh membangunkanku dari mimpi tak bertepi. Kulipat surat Irin yang masih tergolek disampingku. Aku tak hendak membacanya lagi, cukup sekali saja. Lalu kusimpan rapat di laci almariku. Suatu saat kelak, mungkin aku perlu membacanya kembali sebagai penyemangatku. Bergegas aku turun dari tempat tidur, ke kamar mandi berwudlu kemudian mengikuti ayahku ke arah masjid. Ada tersirat heran di mimik muka beliau, biasanya aku sholat shubuh di rumah lalu kembali ke peraduan. Mulai hari ini aku harus berubah menjadi lebih baik. Mencari ridho Alloh seperti pesan Irin.
* * *
Perpustakaan belum terlalu ramai pada jam delapan pagi ini, aku harus mengembalikan buku yang kupinjam minggu lalu. Kemudian aku menuju rak buku di ujung untuk mencari literatur baru untuk tugasku minggu ini. Baru saja aku memilih buku, tiba-tiba terdengar olehku suara buku berjatuhan ke lantai disertai kalimat istiqfar terdengar kalut. Suara yang sangat kukenal. Reflek aku beranjak ke rak sebelah untuk mencari sumber suara itu. Kutemukan seorang gadis berkerudung putih dengan gamis hijau muda sedang sibuk memungut buku-buku yang jatuh. Entah kenapa langkahku terhenti dan urung membantunya. Jantungku berhenti ketika gadis itu beranjak berdiri dan menangkap tatapanku.
“Irin…”
Secepat kilat dia menundukkan pandangnya, mengembalikan beberapa buku ke rak, lalu berjalan cepat membawa dua buku ke arah loket peminjaman. Aku tak hendak mengejarnya. Aku sungguh takjub melihatnya, seperti takjubku dua bulan lalu di tempat yang sama. Tapi kali ini aku berusaha menahan diri untuk tidak mendekatinya. Kuhormati keputusan terbaik yang dipilihnya. Irin, jika ini jalan yang harus kutempuh, tak mengapa. Toh aku tak ingin jatuh cinta kepada gadis lain. Aku rela menunggu waktu terindah itu. Semoga Alloh mempertemukan kita kembali, suatu pagi nanti dalam keadaan yang tak lagi terhalang untukku memiliki cintamu.
Bantul, 3 Juni 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS