Mentari
cemerlang. Sinarnya tajam menyengat kulitku. Tertatih aku mencoba mencapai bale-bale
bambu yang berada di sudut teras. Harapanku bisa sejenak kusandarkan lelahku
disana, bisa kubaringkan raga rapuhku yang hampir tak sanggup menahan nyeri.
Namun aku merasakan tubuhku melayang saat kakiku mulai menginjak lantai teras,
kepalaku terasa sangat berat hingga tak sanggup lagi aku membawanya. Lalu
semuanya berputar-putar dan gelap.
#
# #
Kamar
putih yang dingin. Mataku perlahan terbuka. Atap putih itu berputar-putar
seolah akan runtuh menimbunku. Aku kembali memejamkan mataku dan menunggu
hingga tubuhku tertimbun atap itu. Cukup lama tak juga runtuh, lalu perlahan
kubuka kembali mataku. Atap putih itu masih utuh menaungiku, tidak bergerak
seperti pertama ku lihat tadi. Lalu kuperhatikan sekelilingku, botol infus
tergantung di sisi tempat tidurku, selangnya berujung pada nadi pergelangan
tangan kananku. Aku terbaring lemah, mencoba menerka apa yang terjadi. Mengapa
bale-bale bambuku berubah menjadi dipan tinggi? Bukankah tadi aku sudah sampai
di teras rumahku setelah turun dari sepeda motor? Aku memaksakan diri pulang
tanpa diantar siapapun dari tempatku bekerja, ketika nyeri yang teramat
menggerus perutku. Sejak tiga hari lalu sebenarnya, tapi tak terlalu
kuhiraukan. Aku sudah mencoba mengatasinya dengan meminum obat sakit maag yang
dijual warung sebelah. Tapi nyeri itu semakin menyiksaku hingga aku tak sanggup
menyelesaikan pekerjaanku siang ini.
“Syukurlah,
Bapak sudah siuman”, seorang perawat datang menghampiriku.
“Siapa
yang membawa saya ke sini?”
“Seorang
pemuda. Keponakan Bapak, katanya”
Perawat
itu menyelesaikan tugasnya. Memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan memeriksa
aliran infus. Kemudian dia pamit untuk melapor kepada dokter jaga . Selang
semenit setelah perawat itu keluar kamar, keponakanku masuk menghampiriku.
“Maaf,
saya terpaksa membawa Om ke sini. Tadi saya mendengar Tante berteriak minta
tolong. Lalu saya datang dan ternyata Om sudah tergeletak pingsan di teras”
“Bagaimana
kondisi Tantemu?”
“Saya
belum sempat menanyakannya. Tadi di temani Ibu”
“Azizah?”
“Belum pulang”
Dokter
datang bersama dua orang perawat. Dokter itu memeriksa perutku karena di
situlah sumber keluhan rasa sakitku. Beberapa pertanyaan kujawab berkaitan
dengan kondisiku.
“Saya
boleh pulang kan, Dok? Saya hanya sakit maag saja”
“Maaf,
Bapak harus menjalani pemeriksaan laborat terlebih dahulu. Jika hasilnya semua
bagus, saya akan ijinkan Bapak pulang”
Mereka
mengambil sample darahku, memintaku mengambil sample urine dan tinja untuk
keperluan pemeriksaan laborat. Sesungguhnya aku sangat mengkhawatirkan istriku.
Seperti apa kondisinya sekarang? Apalagi dia melihat sendiri aku pingsan di
teras tadi. Aku hafal kondisi istriku, dia begitu mudah sakit dan akan drop
ketika mengalami peristiwa yang membuatnya sedih. Semoga saja Azizah lekas
pulang dari sekolah agar bisa menemani ibunya.
#
# #
Hasil pemeriksaan laborat telah
diterima dokter pagi tadi. Aku dinyatakan mengalami infeksi lambung akut. Kondisi
lambungku menipis dan akhirnya berdarah. Dokter memintaku untuk bersabar karena
aku harus di rawat minimal seminggu, untuk menyuntikkan obat secara bertahap
setiap pagi dan sore. Untuk dua hari pertama, aku hanya boleh minum dan
selebihnya kebutuhan tubuhku dipenuhi melalui infus. Bertahap kemudian ditambah
makanan lembek, bubur halus, hingga lambungku membaik baru aku diijinkan makan
nasi secara normal.
“Apakah
Bapak mempunyai pola makan yang tidak sewajarnya?”
“Maksud
dokter?”
“Pola
makan Bapak sehari-hari”
“Sewajarnya.
Saya makan setiap hari dengan menu yang biasa disantap keluarga”
“Bapak
tidak mempunyai riwayat sakit maag, asam lambung dan sebagainya. Tapi secara
tiba-tiba lambung Bapak separah ini. Tidak mungkin ini terjadi dalam waktu
cepat, pasti ada hal-hal tertentu yang sudah mejadi kebiasaan cukup lama
berkenaan dengan pola makan”
“Saya
rasa tidak, Dokter”
“Atau
Bapak mengkonsumsi obat atau herbal tertentu secara rutin?”
“Apakah
itu bisa menjadi sebab lambung saya rusak?”
“Bisa
jadi. Jika dosisnya berlebihan dan bahannya membuat lambung bekerja lebih keras
dari sekedar mengolah makanan”
Lama
aku terdiam. Terpekur atas apa yang di sampaika dokter. Apakah benar itu yang
menjadi sebab sakitku? Aku tak hendak menceritakan kepada dokter, namun di satu
sisi aku berkeinginan kuat untuk sembuh, aku tak mau mati sekarang. Azizah
masih membutuhkanku. Aku masih ingin melihat anakku tumbuh dewasa. Paling tidak
hingga aku menyelesaikan tugasku sebagai bapak, yaitu menikahkannya.
Terdorong
rasa ingin sembuh, aku pun menceritakan kepada dokter tentang kebiasaanku
meminum jamu yang di ramu temanku dari beberapa macam daun. Jamu itu terkadang
kuminum dari hasil rebusan daunnya, atau terkadang kuseduh dari serbuk yang
sudah diolah temanku.
“Berapa
lama Bapak mengkonsumsinya?”
“Lima
belas tahun, seusia anak saya”
“Setiap
hari?”
“Tidak.
Pada saat saya membutuhkannya saja. Rata-rata tiga atau dua kali seminggu”
“Untuk
apa, Pak?”
“Untuk
membuat saya menjadi laki-laki tidak normal”
Dokter
itu terbelalak mendengar jawabanku. Mungkin dia tak habis fikir dengan
tindakanku mengkonsumsi jamu itu, dan lebih tak bisa menerima alasanku.
Bagaimana tidak? Di saat banyak orang sibuk mencari obat penguat, aku justru
berusaha melemahkan syahwatku sendiri.
“Tapi
kenapa Pak?”,dokter itu mengambil kursi dan duduk di samping dipanku.
“Istri
saya sakit. Sejak hamil anak kami satu-satunya. Dan setelah anak kami lahir,
dia bukan semakin sehat, malah semakin lemah. Dia tidak bisa menjalankan
tugasnya sebagai istri secara sempurna. Dan berkali-kali dia meminta saya untuk
menikah lagi. Tetapi saya tidak bisa, Dokter. Dia sudah memberikan kepada saya
seorang gadis cantik, anak kami. Hidup saya sudah sempurna bersama mereka. Dan
dengan cara ini saya bisa menghindarkan diri dari keinginan yang tidak akan
terpenuhi. Karena saya takut dosa jika harus memenuhinya dengan jalan lain”
Dokter
itu diam, berkali-kali menghembuskan keras nafasnya sambil menggeleng-gelegkan
kepala. Tatapannya tak lepas dariku sepanjang aku bercerita. Mungkin sekarang
dia sedang berusaha memahami posisiku, memahami keputusan gilaku, memahami
alasanku. Sejenak kemudian dia beranjak meninggalkanku setelah berkata banyak
hal.
“Baiklah,
Pak. Keputusan yang tepat demi sebuah cinta. Cinta tak bersyarat kepada Sang
Khaliq pemilik segala. Demi menjauhi larangan berzina, Bapak rela menjadikan
diri sebagai laki-laki tak bersyahwat. Saya akan bantu sembuhkan lambung Bapak,
tapi tolong setelah ini hentikan minum jamu itu. Lima belas tahun sudah cukup.
Usia dan tubuh renta Bapak sekarang tidak akan membuat Bapak berperang melawan
keinginan itu”.
Bantul,
27 Mei 2015









