RSS

UNTUKMU, TERCINTA









Mentari cemerlang. Sinarnya tajam menyengat kulitku. Tertatih aku mencoba mencapai bale-bale bambu yang berada di sudut teras. Harapanku bisa sejenak kusandarkan lelahku disana, bisa kubaringkan raga rapuhku yang hampir tak sanggup menahan nyeri. Namun aku merasakan tubuhku melayang saat kakiku mulai menginjak lantai teras, kepalaku terasa sangat berat hingga tak sanggup lagi aku membawanya. Lalu semuanya berputar-putar dan gelap.
# # #

Kamar putih yang dingin. Mataku perlahan terbuka. Atap putih itu berputar-putar seolah akan runtuh menimbunku. Aku kembali memejamkan mataku dan menunggu hingga tubuhku tertimbun atap itu. Cukup lama tak juga runtuh, lalu perlahan kubuka kembali mataku. Atap putih itu masih utuh menaungiku, tidak bergerak seperti pertama ku lihat tadi. Lalu kuperhatikan sekelilingku, botol infus tergantung di sisi tempat tidurku, selangnya berujung pada nadi pergelangan tangan kananku. Aku terbaring lemah, mencoba menerka apa yang terjadi. Mengapa bale-bale bambuku berubah menjadi dipan tinggi? Bukankah tadi aku sudah sampai di teras rumahku setelah turun dari sepeda motor? Aku memaksakan diri pulang tanpa diantar siapapun dari tempatku bekerja, ketika nyeri yang teramat menggerus perutku. Sejak tiga hari lalu sebenarnya, tapi tak terlalu kuhiraukan. Aku sudah mencoba mengatasinya dengan meminum obat sakit maag yang dijual warung sebelah. Tapi nyeri itu semakin menyiksaku hingga aku tak sanggup menyelesaikan pekerjaanku siang ini.
“Syukurlah, Bapak sudah siuman”, seorang perawat datang menghampiriku.
“Siapa yang membawa saya ke sini?”
“Seorang pemuda. Keponakan Bapak, katanya”
Perawat itu menyelesaikan tugasnya. Memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan memeriksa aliran infus. Kemudian dia pamit untuk melapor kepada dokter jaga . Selang semenit setelah perawat itu keluar kamar, keponakanku  masuk menghampiriku.
“Maaf, saya terpaksa membawa Om ke sini. Tadi saya mendengar Tante berteriak minta tolong. Lalu saya datang dan ternyata Om sudah tergeletak pingsan di teras”
“Bagaimana kondisi Tantemu?”
“Saya belum sempat menanyakannya. Tadi di temani Ibu”
“Azizah?”
“Belum pulang”

Dokter datang bersama dua orang perawat. Dokter itu memeriksa perutku karena di situlah sumber keluhan rasa sakitku. Beberapa pertanyaan kujawab berkaitan dengan kondisiku.
“Saya boleh pulang kan, Dok? Saya hanya sakit maag saja”
“Maaf, Bapak harus menjalani pemeriksaan laborat terlebih dahulu. Jika hasilnya semua bagus, saya akan ijinkan Bapak pulang”
Mereka mengambil sample darahku, memintaku  mengambil sample urine dan tinja untuk keperluan pemeriksaan laborat. Sesungguhnya aku sangat mengkhawatirkan istriku. Seperti apa kondisinya sekarang? Apalagi dia melihat sendiri aku pingsan di teras tadi. Aku hafal kondisi istriku, dia begitu mudah sakit dan akan drop ketika mengalami peristiwa yang membuatnya sedih. Semoga saja Azizah lekas pulang dari sekolah agar bisa menemani ibunya.
# # #
            Hasil pemeriksaan laborat telah diterima dokter pagi tadi. Aku dinyatakan mengalami infeksi lambung akut. Kondisi lambungku menipis dan akhirnya berdarah. Dokter memintaku untuk bersabar karena aku harus di rawat minimal seminggu, untuk menyuntikkan obat secara bertahap setiap pagi dan sore. Untuk dua hari pertama, aku hanya boleh minum dan selebihnya kebutuhan tubuhku dipenuhi melalui infus. Bertahap kemudian ditambah makanan lembek, bubur halus, hingga lambungku membaik baru aku diijinkan makan nasi secara normal.
“Apakah Bapak mempunyai pola makan yang tidak sewajarnya?”
“Maksud dokter?”
“Pola makan Bapak sehari-hari”
“Sewajarnya. Saya makan setiap hari dengan menu yang biasa disantap keluarga”
“Bapak tidak mempunyai riwayat sakit maag, asam lambung dan sebagainya. Tapi secara tiba-tiba lambung Bapak separah ini. Tidak mungkin ini terjadi dalam waktu cepat, pasti ada hal-hal tertentu yang sudah mejadi kebiasaan cukup lama berkenaan dengan pola makan”
“Saya rasa tidak, Dokter”
“Atau Bapak mengkonsumsi obat atau herbal tertentu secara rutin?”
“Apakah itu bisa menjadi sebab lambung saya rusak?”
“Bisa jadi. Jika dosisnya berlebihan dan bahannya membuat lambung bekerja lebih keras dari sekedar mengolah makanan”

Lama aku terdiam. Terpekur atas apa yang di sampaika dokter. Apakah benar itu yang menjadi sebab sakitku? Aku tak hendak menceritakan kepada dokter, namun di satu sisi aku berkeinginan kuat untuk sembuh, aku tak mau mati sekarang. Azizah masih membutuhkanku. Aku masih ingin melihat anakku tumbuh dewasa. Paling tidak hingga aku menyelesaikan tugasku sebagai bapak, yaitu menikahkannya.
Terdorong rasa ingin sembuh, aku pun menceritakan kepada dokter tentang kebiasaanku meminum jamu yang di ramu temanku dari beberapa macam daun. Jamu itu terkadang kuminum dari hasil rebusan daunnya, atau terkadang kuseduh dari serbuk yang sudah diolah temanku.
“Berapa lama Bapak mengkonsumsinya?”
“Lima belas tahun, seusia anak saya”
“Setiap hari?”
“Tidak. Pada saat saya membutuhkannya saja. Rata-rata tiga atau dua kali seminggu”
“Untuk apa, Pak?”
“Untuk membuat saya menjadi laki-laki tidak normal”
Dokter itu terbelalak mendengar jawabanku. Mungkin dia tak habis fikir dengan tindakanku mengkonsumsi jamu itu, dan lebih tak bisa menerima alasanku. Bagaimana tidak? Di saat banyak orang sibuk mencari obat penguat, aku justru berusaha melemahkan syahwatku sendiri.
“Tapi kenapa Pak?”,dokter itu mengambil kursi dan duduk di samping dipanku.
“Istri saya sakit. Sejak hamil anak kami satu-satunya. Dan setelah anak kami lahir, dia bukan semakin sehat, malah semakin lemah. Dia tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai istri secara sempurna. Dan berkali-kali dia meminta saya untuk menikah lagi. Tetapi saya tidak bisa, Dokter. Dia sudah memberikan kepada saya seorang gadis cantik, anak kami. Hidup saya sudah sempurna bersama mereka. Dan dengan cara ini saya bisa menghindarkan diri dari keinginan yang tidak akan terpenuhi. Karena saya takut dosa jika harus memenuhinya dengan jalan lain”
Dokter itu diam, berkali-kali menghembuskan keras nafasnya sambil menggeleng-gelegkan kepala. Tatapannya tak lepas dariku sepanjang aku bercerita. Mungkin sekarang dia sedang berusaha memahami posisiku, memahami keputusan gilaku, memahami alasanku. Sejenak kemudian dia beranjak meninggalkanku setelah berkata banyak hal.
“Baiklah, Pak. Keputusan yang tepat demi sebuah cinta. Cinta tak bersyarat kepada Sang Khaliq pemilik segala. Demi menjauhi larangan berzina, Bapak rela menjadikan diri sebagai laki-laki tak bersyahwat. Saya akan bantu sembuhkan lambung Bapak, tapi tolong setelah ini hentikan minum jamu itu. Lima belas tahun sudah cukup. Usia dan tubuh renta Bapak sekarang tidak akan membuat Bapak berperang melawan keinginan itu”.
Bantul, 27 Mei 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AKU UNTUKMU



Jadikan saja aku pantaimu
Jika engkau samudra yang menggelora
Lepaskan riak-riak gelombangmu padaku
Jika engkau sungai
Muarakan air matamu padaku

Jadikan aku langit birumu
Jika engkau gerah akan terik mentari
Bernaunglah dari redup awanku
Jika engkau gelap karena malam
Kan kusinari engkau dengan kilau bintangku.

Bantul, 16 Januari 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AKU ADALAH IBU




Terima kasih telah menjadikanku perempuan perkasa
Walau sungguh tak kuinginkan hal itu
Namun segalanya hanya bisa kuterima
Bahwa aku masih harus bertahan hidup

Selama tulang rapuhku masih bisa kupaksakan berdiri
Dan kaki lunglaiku masih bisa berlari
Maka aku masih akam menjalani semua ini

Entah untuk siapa...?
Namun di benakku hanya ada mereka
Empat nyawa yang pernah bersemayam di rahimku
Yang masih butuhkan aku untuk mengantarnya dewasa
Yang masih ingin kulihat tawa dan tangisnya
Walau terkadang aku berfikir
Mereka hidup atas kehendak pemilik nyawa
Bukan atas adanya aku sebagai ibunya.

Bantul, 24 Februari 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS