RSS

LELAKI MEMBELAH SUNSET



Lelaki itu selalu berdiri di sana, di tepi pantai menjelang senja, lima ratus meter dari tempat tinggalnya. Matahari tenggelam adalah sahabatnya. Berdiri sendiri memandang cakrawala saga, menikmati kepak-kepak burung di atas ombak, yang hendak berpulang di atas gugusan karang di tepian sana. Saat mentari bulat sempurna meninggalkan jingganya yang terakhir, lelaki itu tampak laksana siluet membelah sunset. Tubuhnya berdiri tegak seperti pohon nyiur di tepi pantai. Kedua tangannya tersimpan di saku celana, kedua kakinya tegak dan kekar mencengkeram pasir. Siluet hitam terlihat sempurna sebatas surya yang hendak tenggelam ke ujung laut. Menghantarkan matahari ke peraduannya, dan akan beranjak jika gelap telah menyapu sepanjang pantai. Selalu itu yang dilakukannya sejak sebelas tahun silam. Ketika dunianya yang semula indah dan terang benderang, tiba-tiba menjadi sunyi dan senyap.

# # #

            Lelaki itu mondar-mandir di ruang tunggu gedung operasi. Di dalam sana istrinya sedang berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka. Kebahagiaan setahun yang nyaris sempurna hari ini. Sejak subuh tadi air ketuban telah mengalir dari rahim istrinya, dan hingga azan duhur berkumandang, tak juga terlihat tanda-tanda bayinya akan terlahir. Keadaan tersebut memaksanya untuk menyetujui saran dokter agar segera dilakukan bedah cecar, demi keselamatan ibu dan bayinya. Sejurus ia menuju mushola di sebelah gedung operasi, ketika teringat bahwa belum dilaksanakan empat rakaatnya siang ini. Berharap akan memperoleh ketenangan, dibasuhnya raga lelah itu dengan wudlu, kemudian disandarkanlah segala gundahnya pada setiap rukuk dan sujudnya.
            Lelaki itu kembali ke ruang tunggu di depan gedung operasi dengan hati yang lebih tenang. Dia duduk di kursi sambil melanjutkan dzikirnya, hingga seorang perawat memberi kabar bahwa operasi telah selesai dan dia diijinkan masuk ke ruang pemulihan. Dengan rasa was-was, dia mengikuti perawat itu memasuki kamar operasi. Hawa dingin kesetika menyergapnya, membuat hatinya semakin dingin dan takut. Dia duduk menunggu di ruang pemulihan yang berada di sebelah ruang operasi. Seorang perawat keluar dari ruang operasi, menghampirinya sambil menggendong bayi. Lelaki itu berdiri menyambut dengan kedua tangan yang gemetar. Degup jantungnya seakan berhenti mencium aroma dari surga yang begitu dekat di pelupuk matanya. Kristal bening telah mengaburkan binar matanya.
“Selamat, Bapak. Putri Anda lahir dengan selamat. Cantik seperti ibunya”, perawat itu berkata penuh senyum seraya menyerahkan bayi itu kepadanya. Segera dipeluknya tubuh mungil itu, rekat di dadanya.
“Terimakasih, Suster. Bagaimana dengan istri saya?”
“Masih belum siuman. Tunggulah sebentar, kami masih merawatnya”.
Perawat itu kembali ke kamar operasi, meninggalkannya berdua dengan kekasih barunya. Perlahan dia duduk kembali di kursi, membenahi gendongannya. Mendekatkan wajahnya pada wajah merah yang tampak tidur dengan tenang. Bergetar jari-jarinya saat mengusap rambut dan dahi lembut itu. Lalu dibisikkannya azan di telinga kanan, dan iqomah di telinga kiri anaknya. Tubuh mungil itu menggeliat dan tersenyum, membuat bapaknya terbuncah rasa bahagia tak terkira. “Jadilah engkau pelita bagiku dan ibumu”, begitu ucapnya seraya mendekap tubuh mungil ke dalam peluknya, dekat di jantungnya.
            Sebuah tempat tidur di dorong keluar dari kamar operasi menuju ruang pemulihan. Lelaki itu berdiri menyambut istrinya yang masih terpejam di atas tempat tidur. Diserahkan bayinya kepada seorang perawat, dan dihampirilah istrinya di sudut ruang pemulihan. Tampak dua selang tergantung di kedua sisi tempat tidur, dua jarum menancap pada kedua lengan istrinya. Cairan infus mengalir di nadi tangan kananya, dan darah mengalir di nadi tangan kirinya. Wajah pucat pasi itu tetap terpejam saat dia menyentuh tangan istrinya, dingin menyusup dari jemari hingga jantungnya. Perasaan bahagia yang baru saja dirasakan kala mendekap anaknya, sekejap berubah menjadi khawatir dan iba terhadap perempuan yang telah menemani hidupnya setahun ini.
            Hampir dua jam lelaki itu dirundung resah melihat istrinya tak juga bergerak. Sesekali didekatinya tempat tidur mungil di samping istrinya, melihat anaknya menangis. Bayi itu mengulum jari-jarinya menandakan dia kehausan, tapi apa daya sang ibu belum sadarkan diri. Lelaki itu mencoba meminta kepada perawat untuk memberikan beberapa tetes air kepada anaknya, dan perawat belum berani bertindak tanpa ijin dari dokter. Mereka berusaha menunggu sang ibu tersadar, agar bisa memberikan air susu kepada bayinya. Namun karena waktu tungu yang terlalu lama, beberapa tetes air madu diberikan untuk mengobati haus dan lapar anaknya.
            Ketika anaknya tertidur tenang, didekati kembali istrinya. Dia duduk di samping tempat tidur sambil mengusap-usap kening istrinya. Dibisikkannya beberapa kata di telinga istrinya, berharap dia mendengar dan mau membuka matanya.
“Bangunlah, Sayang. Tidakkah kau ingin melihat anak kita? Dia lucu sekali. Cantik sepertimu”
Berulang kali diucapkannya kalimat itu, sambil menggenggam jemari istrinya. Hingga dirasakannya jari-jari itu bergerak lemah, menyentuh telapak tangannya yang kasar. Dengan sigap di pegangnya jemari istrinya, dielusnya dahi istrinya sambil berkata, “Bangunlah, Sayang”.
Perlahan perempuan itu membuka matanya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Disambutnya mata istrinya yang terbuka dengan senyum terindah yang dia punya. Beberapa detik mata sayu itu menatapnya, meninggalkan seulas senyum, lalu terpejam kembali. Dokter mengatakan bahwa kondisi istrinya sangat lemah, tetapi dia sudah dalam keadaan sadar. Maka beberapa perawat bersiap membawa istri dan anaknya ke ruang perawatan di kamar pasien. Lelaki itu merasakan sepercik khawatir atas istrinya, di atas sebongkah bahagia atas kelahiran putrinya.
Seminggu berada di rumah sakit, tidak terlalu banyak perubahan pada kondisi istrinya sejak melahirkan. Bahkan hingga detik ini pun, bayi mungil itu belum memperoleh setetes air susu ibunya. Dokter telah memutuskan untuk memberinya susu formula pada hari ketiga, karena si bayi terancam dehidrasi berat. Tubuhnya telah menguning, layu dan tidak bergerak secara aktif. Dan hari ini dokter mengijinkannya membawa pulang istri dan anaknya walau dalam keadaan yang tidak terlalu baik. Dokter berpendapat bahwa dia tidak bisa melakukan apapun lagi, selain menganjurkan untuk mengontrol kesehatan  istri dan anaknya secara berkala.
Sungguh kesabaran yang luar biasa telah mendekap lelaki itu, genap tiga bulan ia harus berjuang sendirian untuk hidup istri dan anaknya. Kondisi istrinya tak semakin membaik, hanya terbaring lemah tak berdaya. Sementara dia harus pula merawat bayi mungil yang tak kunjung tumbuh sempurna. Seluruh waktu telah dikerahkan untuk merawat dua perempuan yang dicintainya itu. Walau tak sempurna, namun tiada yang lebih baik dari apa yang telah dilakukannya selama ini.
Hingga malam ini di saat gerimis masih membasahi udara sejak senja tadi, lelaki itu terbangun demi mendengar rintih lirih bayinya. Biasanya tengah malam begini dia terbangun untuk mengganti popok dan memberinya susu. Perlahan dirabanya kepala anaknya yang masih disandingnya. Lelaki itu terkejut merasakan suhu panas tak biasa pada tubuh anaknya. Dia duduk penuh khawatir sambil mendekap erat bayi mungil itu. Tak hendak melepasnya, di bawanya bayi itu dalam gendongannya menuju dapur untuk menyeduh susu. Berharap bisa menurunkan suhu tubuh anaknya dengan memberi minum dan mengompres dahinya dengan handuk kecil basah. Namun si bayi tak juga mau meneguk susu seperti biasanya. Lelaki itu resah luar biasa. Dia melihat ke arah jendela dan gerimis masih berderai menemani pekatnya malam.
Sejenak di bawanya bayi mungil itu kepada ibunya, tapi dia urungkan niat membangunkan istrinya yang tengah pulas dalam lelap. Dilema berkecamuk di hatinya. Ingin dia membawa anaknya ke puskesmas di seberang desa, namun tak tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Beberapa kali dia berjalan mondar-mandir sambil mendekap erat bayinya. Hingga akhirnya dia mengambil mantel dan payung, berjalan ke arah pintu dan keluar dalam derai gerimis. Di ketuknya rumah tetangga terdekat di samping rumah. Tergopoh-gopoh dua penghuninya keluar menyambutnya dalam pandangan yang belum sempurna.
“Ada apa, Kak?”
“Maaf mengganggu, si kecil sakit”, katanya sambil memperlihatkan bayi dalam gendongannya.
Sepasang suami istri itu serentak menyentuh dahi mungil itu dan keduanya terkejut, ikut larut dalam kegundahan. Kemudian berusaha memberikan jalan keluar.
“Mari saya antar Kakak ke puskesmas, biar istri saya menemani istri kakak di rumah”
“Terima kasih”.
# # #
Tanah merah ini masih basah. Lelaki itu masih belum ingin beranjak darinya, sementara senja mulai turun menjadi jingga. Dia terpekur menatap nisan kayu yang baru saja ditancapkan selepas asar. Matanya berkabut membaca kembali nama anaknya tertera di sana. Hatinya berdesir melihat selisih tiga bulan saja antara tanggal lahir dan tanggal wafatnya.
Perjuangannya semalam untuk mempertahankan anaknya tak bisa mengalahkan kasih Alloh yang lebih dashyat. Dia mencintai sepenuh jiwanya, bahkan rela bertukar nyawa. Namun apalah artinya jika Alloh lebih menginginkan anak itu kembali ke pangkuanNya. Bertarung dengan gerimis semalam, tubuh mungil itu melemas saat matahari hendak terbit di ufuk timur. Gerimis baru saja berhenti, dan lengkung indah pelangi seakan menyambut kepulangan gadisnya ke surga. Tak bisa dielakkan. Walau erat didekap tubuhnya, namun roh tetap saja lepas dari peluknya.
Diremasnya tanah merah tempatnya bersimpuh, menghabiskan sisa-sisa kerelaan dalam kalbunya. Senja menjelang saat terakhir dia mengantarkan anaknya ke peristirahatan, seolah hari-hari biasa dia mengantarkan dalam tidur lelap, terbuai mimpi indah. Perlahan dikuatkannya kedua kakinya untuk berdiri, berjalan menuju rumahnya. Terbayang wajah lunglai istrinya. Dan dia berjalan sempoyongan, tak tahu harus menyusun kalimat apa untuk istrinya.
# # #
Senja menyeret langkahnya ke pantai, berdiri sendiri memandang cakrawala saga, menikmati kepak-kepak burung di atas ombak, yang hendak berpulang di atas gugusan karang di tepian sana. Saat mentari bulat sempurna meninggalkan jingganya yang terakhir, lelaki itu tampak laksana siluet membelah sunset. Tubuhnya berdiri tegak seperti pohon nyiur di tepi pantai. Kedua tangannya tersimpan di saku celana, kedua kakinya tegak dan kekar mencengkeram pasir. Siluet hitam terlihat sempurna sebatas surya yang hendak tenggelam ke ujung laut. Menghantarkan matahari ke peraduannya, dan akan beranjak jika gelap telah menyapu sepanjang pantai, sambil berkata,” Nak, senja ini Ayah menghantarmu tidur. Dan esok pagi, lengkung indah pelangi akan menyambutmu. Begitulah setiap hari”.

Bantul, 14 Desember 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar