Sabtu,
8 November. Setelah berjalan kaki di bawah terik mentari, akhirnya kutemukan
lokasi kampus berdasarkan keterangan singkat dari kakakku. Pukul dua siang, terdengar suara panitia
melalui TOA memerintahkan kami untuk berkumpul di halaman. Kemudian sedikit
berbasa-basi mengenai acara siang ini, intinya akan dilakukan pembagian gugus
untuk pelaksanaan orientasi mahasiswa baru. Pembagiannya dilakukan berdasarkan
NIM. Karena tidak mungkin mereka menyebutkan nama kami satu per satu. Hah…??
Apa itu NIM? Aku mulai merasa bodoh. Kata teman di sampingku, Nomor Induk
Mahasiswa.
“Dari
mana kita tahu NIM kita?”, tanyaku
“Dari
sini.”, katanya sambil memperlihatkan selembar kertas berwarna merah muda.
Aku
pinjam kertas itu lalu kubaca. “BUKTI
DAFTAR ULANG MAHASISWA BARU”. Di situ tertulis identitas pokok yaitu Nama, NIM
dan jurusan. Kukembalikan kertas itu kepada pemiliknya dengan lesu. Dalam hati
aku bertanya, “Kok aku tidak punya ya?”. Harusnya aku juga punya, pasti ada
sewaktu ibuku mendaftarkan aku, tapi mengapa tidak diberikan kepadaku? Disimpan
siapa? Di mana? Beribu pertanyaan yang tak mungkin kujawab justru semakin
membuatku bingung. Waktu itu aku masih lesu dengan kenyataan tidak diterima di
universitas negeri yang kuinginkan, lalu ibu dan kakakku yang datang ke kampus
untuk mendaftarkan aku, jadi aku sama sekali tidak tahu tentang bukti-bukti
pendaftarannya. Lalu bagaimana aku bisa tahu gugusku?
Berangsur-angsur
kulihat teman-temanku mulai terhimpun dalam kelompok-kelompok sesuai nomor dan
jurusan yang disebutkan panitia. Aku hanya terpaku melihat mereka laksana
gugusan-gugusan bintang sementara aku berkedip sendirian di sini. Apalagi
ketika gugus- gugus itu berbaris rapi dan mulai memasuki gedung perkuliahan dengan
pendamping dan komandan pleton. Iri rasanya, mengapa aku tidak bisa ikut dalam
salah satu gugus itu? Hingga akhirnya, tersisalah lima orang sepertiku yang
tampak seperti orang hilang. Seorang panitia mengumpulkan kami.
“Adik-adik
kenapa tidak menemukan gugusnya?”
“Saya
kurang jelas mendengar pengumuman tadi, Kak”, kata seorang gadis.
Kemudian
sang panitia meminjam kertas merah muda ditangannya, setelah melihat jurusan
dan NIM, dia melihat daftar gugus yang dibawanya. Benar memang di situ tidak
tertera nama kami, hanya jurusan dan NIM nomor sekian sampai sekian. Setelah
mendapatkan informasi tentang nama gugus serta ruang yang harus dituju, gadis
itu beranjak menyusul teman-teman ke kelas. Sementara kami yang berempat tidak
membawa kertas merah muda tadi. Ketiga temanku mengatakan lupa sebagai
alasannya. Hanya alasanku yang sanggup membuat panitia itu tertawa, entah
benar-benar geli atau mengejek.
“Tidak
tahu? Kok bisa? Apa kemarin tidak daftar ulang, ya?”
“Saya
tidak tahu, Kak. Yang mendaftarkan ibu dan kakak saya. Saya tidak diberitahu
apa-apa kecuali tentang agenda siang ini”
Aku
jelaskan sekalian. Terserah mau diejek anak manja, kampungan atau apa, aku tak
peduli. Toh kenyataannya aku tak tahu apa-apa. Inilah akibat kebodohanku, tak
mau menanyakan apapun kepada kakakku tentang pendaftaran itu. Dan aku tidak
bisa mereka-reka alasan lain. Kemudian kami berempat diajak ke ruang tata usaha
oleh panitia untuk melihat daftar mahasiswa baru yang lengkap. Kami berempat
berasal dari jurusan yang berbeda, dan hanya berbekal jurusan dan nama kami,
petugas mencari data di komputer tata usaha, berapa NIM kami. Lagi-lagi
nasibku, karena akuntansi mempunyai daya tampung terbanyak, maka aku harus
bersabar mendapat giliran terakhir di antara keempat orang ini. Begitulah,
perjuangan panjang panitia mencari namaku di antara ratusan nama. Untung saja
namaku tak ada yang menyamai sehingga aku begitu yakin itulah NIM-ku, 5229.
Dengan
nomor itu aku bisa tahu bahwa aku termasuk anggota gugus bangsa satu, kemudian
panitia menyuruhku menyusul teman-temanku di ruang F-6.
“Dimana
itu?” , tanyaku
“Lantai
tiga, dekat tangga”, jawabnya.
Dengan
sisa-sisa tenaga, kunaiki tangga utama di kampus ini. Sesampai di lantai tiga aku berhenti di
ujung tangga, berusaha mengatur nafas sambil mataku mencari ruang yang
dimaksud. Tiga pintu yang ada di depanku bukan ruang yang aku cari, rasanya
tidak tenang, apalagi waktu sudah semakin sore, ada beberapa gugus yang sudah
selesai dan sudah pulang. Aku bertanya pada seseorang yang mengenakan jas
almamater, pasti dia salah satu panitia orientasi. Lalu ditunjukkannya ruang
yang kumaksud. Astagfirulloh, ternyata ruang F-6 ada di belakangku, tepat di
samping tangga tadi tinggal belok kiri. Aku berhenti sejenak di depan pintu. Di
dalam ramai sekali. Akhirnya kuberanikan diri mengetuk pintu. Pertama tak
terdengar mungkin, lalu kuulangi sedikit keras.
“Ya
tunggu sebentar”, terdengar suara seorang laki-laki dari dalam ruang.
Ketika
pintu terbuka, kudapati seorang kakak panitia tersenyum.
“Maaf,
Kak. Saya terlambat. Tadi tidak membawa NIM”
“Okey,
silahkan masuk dan bergabung dengan teman-temanmu”
Ketika aku masuk, suasana sedang gaduh. Mereka
sedang membagi perlengkapan untuk besok Senin. Tak satupun memperhatikan
kehadiranku. Lalu aku duduk di kursi kosong di sudut ruang. Memperhatikan
teman-temanku yang sudah sangat akrab satu dengan yang lain, sementara aku
seperti ayam kehilangan induknya. Satu per satu yang telah mendapatkan
perlengkapan langsung keluar ruang dan pulang. Sedih rasanya, tapi tak bisa
berbuat apa-apa. Hingga akhirnya tersisa lima orang. Dua orang panitia dan tiga
orang mahasiswa baru.
Setelah
aku mendapatkan perlengkapan berupa tas, jas almamater, topi, dasi, tanda
peserta dan beberapa buku, aku mencatat tentang jadwal kegiatan Senin lusa dan
apa saja yang harus kupersiapan dan kubawa. Kemudian aku pulang. Saat ini
langit telah memerah saga dan adzan maghrib telah berkumandang.
Bantul,
8 Mei 2015








0 komentar:
Posting Komentar