RSS

KERETA KEMATIAN




Kereta itu berjalan menyusuri rel yang telah ditetapkan 

Berkeliling dunia dan akan berhenti di stasiun terakhir, alam baka

Mengantarkan para penumpangnya menjumpai Rabb

Pemilik semesta


Kalian ada di stasiun yang mana?


Aku di sini ...

Entah, apakah aku ingin kereta itu segera sampai ataukah berharap tak usah datang

Aah, tapi bukankah dia tetap akan datang?

Menghampiriku di stasiun ini dan mau tak mau aku harus ikut


Semakin lama waktu tungguku

Sesungguhnya aku diberikan kesempatan mengumpulkan lebih banyak bekal

Mengujiku apakah mampu memanfaatkan waktu untuk amar makruf

Ataukah menyia-nyiakan untuk berbuat munkar


Aaah ... 

Terkadang aku terlena dengan suasana 

Berfikir bahwa dia belum akan tampak

Pun terkadang berdebar-debar saat merasa ada pertanda kehadirannya yang semakin dekat


Kalian di stasiun yang mana?


Sudahkah siap jika kereta itu datang menjemput?

Sudahkah cukup bekal mu?

Sudahkan mempersiapkan mereka yang hendak kalian tinggalkan?


Kalian ada di stasiun yang mana?


Aku di sini ...

Duduk di bangku peron

Sambil sesekali menatap jauh ke ujung rel

Bukan berharap, tapi bersiap

Mungkin sebentar dia akan datang.


#ririhmay di Bantul pada 28 Agustus 2021  - 10.42

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEPADA KALIAN, YANG AKAN PERGI TANPA PERPISAHAN (untuk anak-anak yang lulus sekolah pada masa pandemi Covid 19)


Hari ini adalah yang sempat kita cita-citakan

Sebuah hari yang akan kalian sebut sebagai hari kemenangan
Hari di saat kalian sampai pada titik akhir sebuah perjuangan

Mungkin kalian telah memimpikan sebuah hari penuh persembahan
Yang kelak akan kalian kenang sebagai sebuah keindahan
Melepaskan masa putih abu-abu dengan rekah senyuman
Mempersembahkan hasil 
terbaik kepada orang tua dan guru

 

Pun aku ...
Seharusnya hari ini melepasmu penuh rasa bangga dan syukur
Sebanyak ingin menanti saat menyematkan tanda kelulusan
Menjabat erat tangan dan sebuah pelukan
Mungkin akan menjadi goresan terakhir sebelum kalian pergi meninggalkan gerbang
Sebuah lagu urung kudendangkan
Sebuah syair urung kubacakan

 

Kini, hanya goresan kenang yang kupersembahkan
Meski kalian pergi tanpa perpisahan
Tanpa berpamitan
Tanpa meninggalkanku sebuah kenangan-kenangan

 

Namun lihatlah ...
Hari ini kulepaskan kalian dengan sepenuh doa.
Sedikit yang terekam sepanjang perjalanan
Masih kusimpan dalam kenang.

 

#ririhmay
Selamat hari pendidikan, Indonesia ...!!!
Selamat lulus, putih abu-abu, 20 Mei 2020

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JALAN HIDUP



Setidaknya ...

Setiap orang punya catatan masing-masing tentang apa yang telah dilalui

Mengatakan berat bukan berarti tak kuat.

Mengatakan sulit bukan berarti tak bisa.

Mengatakan sedih bukan berarti kemudian berhenti bahagia.

Menangis bukan berarti lupa bagaimana tertawa

Pun mengalah, sabar dan iklas bukan berarti selamanya menyerah untuk dijajah

 

Seperti aku yang tetap berusaha berdiri tegar

Sedasyat apapun guncang dan gunjing di sekeliling.

Yang masih tetap menatap jauh ke depan

Meski langkah berat dan harus berhenti sesaat

 

Akan tiba waktunya untuk kembali berdiri tegap menatap masa depan

Melangkah pasti setelah bimbang di persimpangan

Dan kembali bersiap menyambut segala apa yang akan terjadi

Sebab sebagai hamba, aku sekedar melakoni.

 

Bantul, 1 Januari 2018

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CINTA DALAM POTONGAN-POTONGAN TEMPE BACEM



Pagi baru saja bergulir, ketika perempuan itu menapaki jalan berbatu yang sedikit menanjak, untuk menjumpai seseorang  yang tinggal di rumah berjarak seratus meter dari tempat tinggalnya. Matanya berkeliaran mencari ke beberapa sudut halaman hingga manik mata itu menangkap sesosok yang dicarinya sedang menyapu mushola kecil di sudut halaman rumah. Dihampirinya dengan riang.

"Mas ... Anterin ke pasar"

 

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara  dari arah pintu mushola, tersenyum sekilas.

"Yo sik. Kuselesaikan ini sebentar ya?"

"Ya. Kutunggu di bawah ya?"

"Hmmm ..."

 

Lalu dia kembali menuruni jalan berbatu, menuju rumah tinggalnya, mengambil tas belanja dan dompet, kemudian duduk di beranda menunggu jemputan. Tak lama, yang ditunggu menghampiri dengan motor butut. Dicermatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Gak mandi?"

"Hahahha ... Masih ganteng"

"Iiiisssh ... Nyebelin"

"Yo wiis, gak sido aa ?"

"Aaaaa ...."

Sambil manyun, dia naik ke boncengan, meletakkan tas belanja di antara mereka.

"Bau. Kecuut ...!!"

"Biariiiin ..."

 

Motor itu perlahan menuruni jalanan berbatu, ada sekitar empat kilometer sebelum sampai pada jalan besar beraspal. Lelaki itu mengendarai dengan sangat hati-hati, dia ingin perempuan yang duduk di belakangnya itu merasa nyaman dan aman.

Pasar yang dituju berjarak sepuluh kilometer dari kampung mereka, dan itu adalah pasar terdekat yang buka hingga siang hari. Setelah memarkir motor, mereka masuk pasar melewati lorong-lorong di antara los-los sayur dan lauk. Lelaki itu membuntuti si perempuan sambil mengambil alih tas belanjaan yang mulai terisi separuh.

"Banyak banget beli tempe"

"Iya, mau kubacem"

"Bacem?"

"Iya"

"Seperti apa itu?'

"Nanti juga tahu"

 

Tak banyak tanya lagi, kemudian mereka pulang dan sesampainya di rumah langsung menuju dapur. Perempuan itu sibuk mengeluarkan isi tas belanjanya, semilah-milah bahan masak dan beberapa bumbu dapur. Sementara lelaki itu duduk di bale-bale bambu di sudut dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik si perempuan, sambil kadang-kadang tersenyum sendiri melihat tubuh langsing itu hilir mudik di dapur, duduk, berdiri, ambil ini dan itu.

"Mas, bantuin ngupas"

Lalu lelaki itu mengupas setumpuk tempe yang ditaruh si perempuan di dekatnya duduk, sambil disodorkan sebuah panci untuk menaruh tempe yang sudah dikupas. Sementara perempuan itu sibuk mengupas bawang merah, bawang putih, menggerusnya bersama butiran-butiran ketumbar dan beberapa gelintir kemiri. Memetik beberapa lembar daun salam di samping rumah, mencucinya dan memasukkan ke dalam panci yang berisi tempe, memasukkan bumbunya, garam, gula jawa dan menuangkan air hingga setengah panci. Kemudian dijerang di atas perapian setelah ditutup rapat.

"Jagain apinya, Mas. Jangan berlalu besar nanti gosong"

Sementara dia sibuk memotong kangkung, mencucinya hingga menumisnya. Sesekali dibukanya tutup panci sambil membolak-balik tempe agar bumbunya merata.

"Sudah  Mas, tolong diturunkan"

Sementara dia menyiapkan wajan dan minyak goreng di atas tungku. Lelaki itu mengerjap menghirup aroma manis saat panci dibuka.

"Hhhmmm ... Sedeep"

"Wis yaa, Mas nyium uapnya aja ya? Gak usah makan tempenya", selorohnya sambil tertawa

"Enak aja, gak kuantar ke pasar lagi besok"

"Halah, ngancam"

Kemudian tersaji di atas bale-bale bambu, sebakul nasi yang masih mengepul, semangkuk tumis kangkung, secobek sambel tomat, dan sepiring tempe bacem  yang sudah digoreng.

"Hhhmmm enake , Rek ..."

Lahap sekali lelaki itu menyantap habis isi piringnya. Dan matanya berbinar indah kala perempuan itu meletakkan dua potong tempe bacem lagi di piringnya.

"Ini kali pertama aku mengenal tempe bacem. Enak. Manis"

 

#ririhmay di Bantul, 7 September 2021 - 20.02

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Senja di Dermagamu



= senja di dermagamu =


perempuan itu duduk di ujung dermaga, kedua kakinya menjuntai turun ke arah laut. kepalanya tegak menatap laut di depannya yang begitu tenang, damai, tanpa gelombang bergulung seperti pantai di kampungnya.
satu jam yang lalu dia baru sampai, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat pada sebuah nomor seluler yang hampir 25 tahun tak dihubunginya, semenjak pesannya yang terakhir tak terjawabkan.
"aku telah sampai di pantaimu, dan kini aku menunggumu di ujung dermaga"

tangan lelaki itu bergetar hebat menyentuh ponselnya, sebuah nama yang tak pernah terhapus di kontak maupun hatinya, meski seperempat abad lamanya dia berusaha melupakannya.
sebuah kesengajaan yang biasa baginya tak membalaskan pesan, hingga dia berfikir untuk kembali menunggu pesan darinya, meski sekedar bertanya kabar. dia lupa, bahwa perempuan itu masih menunggu balasan sapa rindunya, 25 tahun lalu.

tertatih, dengan mantel warna kelabu dan syal membelit leher keriputnya, dia menuju dermaga.
tangan rapuhnya berpegang pada pagar dermaga, mata rabunnya menemukan sosok yang masih menatap laut di ujung dermaga.
selangkah demi selangkah mematikan jarak mereka, tampaklah di depannya sosok mungil dengan punggung renta. angin sepoi meniup selendang ungu yang dikenakannya sebagai kerudung.
rambut putih itu kontras dengan warna hitam mantelnya.

lelaki itu bersimpuh pada lututnya yang bergetar, tepat di belakang punggung itu, jantungnya serasa lelah bertarung rasa, dan dengan susah payah dia berkata,
" kau kah itu?"
"iya. ini aku"
"untuk apa kau kemari?"
"untuk menikmati jingga di pantaimu, bersamamu. sebelum ajal menjemputku"
dan bahu itu berguncang hebat, di tangannya tergenggam selembar foto sunset dengan siluet lelaki di atas dermaga.


= 22 mei 2017 pukul 22.29 =

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SILUET MEMBELAH SUNSET



Lelaki itu selalu berdiri di sana
Di tepi pantai menjelang senja
Lima ratus meter dari tempat tinggalnya

Matahari tenggelam adalah sahabatnya
Berdiri sendiri memandang cakrawala saga
Menikmati kepak-kepak burung yang hendak berpulang
Di atas gugusan karang di tepian sana

Saat mentari bulat sempurna
Meninggalkan jingga yang terakhir
Lelaki itu tampak laksana siluet membelah sunset

Tubuhnya berdiri tegak seperti pohon nyiur di tepi pantai
Kedua tangannya tersimpan di saku celana
Kedua kakinya tegak dan kekar mencengkeram pasir
Siluet hitam terlihat sempurna

Sebatas surya yang hendak tenggelam ke garis samudra
Menghantarkan matahari ke peraduan  senja
Dan akan beranjak jika gelap telah menyapa

Bantul, 30 November 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENANTI PAGI









Aku melihatnya pertama kali di perpustakaan. Saat itu aku sedang bingung mencari literatur untuk persiapan lomba desain grafis. Beberapa buku tebal apa di tanganku, harus kupilih dua saja sesuai peraturan bahwa satu kartu anggota perpustakaan hanya berlaku untuk dua eksemplar buku. Yang lainnya harus kubaca di tempat, kuringkas atau kupinjam untuk difotokopi. Tiba-tiba saja tanganku gemetar menahan beban buku-buku tersebut sehingga buku-buku itu jatuh kelantai. Aku berjongkok untuk memungutnya dan ketika kepalaku mendongak ke arah lorong rak buku di hadapanku, di sana, sekitar lima meter di hadapanku, berdiri seorang gadis semampai, begitu anggun dengan blus biru muda dan rok panjang putih tulang. Rambut tebalnya tergerai indah hingga pinggang. Beberapa detik duniaku berhenti, memaksaku menatap sosok itu hingga aku terkesiap ketika tiba-tiba matanya yang cemerlang menangkap basah tatapanku. Sempat kutangkap rona merah di wajahnya sebelum dia berangsur pergi menyelinap disela-sela rak buku yang lain. Aku mengurungkan niatku untuk mengejarnya, pikiranku kembali kepada buku-buku yang berserakan di lantai perpustakaan. Segera kupungut buku-buku itu, dua kupinjam dan lainnya kubaca di tempat.
Dan sejak itu, setiap kali berada di perpustakaan, aku berharap dapat kembali menjumpainya, dapat melihat sosok anggunnya, dapat melihat senyum manisnya, atau jika nasib baik berpihak padaku, aku ingin bisa berkenalan dengannya. Aku tak berusaha mencari tahu siapa namanya, aku ingin mendengar darinya sendiri siapa namanya.
Kesempatan itu datang ketika aku hendak makan siang di kantin. Nampan ditanganku berisi secangkir  kopi mix dan sepiring nasi pecel, berkeliaran mataku mencari bangku kosong. Ramai sekali kantin pada jam dua belas begini, hampir tak ada tempat duduk bisa kutemukan. Dua orang gadis beranjak dari meja di salah satu sudut kantin, meninggalkan seorang temannya yang baru saja mulai menikmati semangkuk bakso. Aku melangkah ke arah meja tersebut dan meminta ijin kepada gadis tersebut untuk duduk bergabung. Jantungku hampir berhenti ketika dia mendongakkan wajahnya dan mempersilahkan aku duduk.
Perlahan kuletakkan nampanku, duduk tepat dihadapannya. Gelasnya masih penuh dengan jus mangga yang menguning. Sambil makan, aku mereka-reka rencana, apa yang harus aku lakukan setelah ini. Sosok yang berhari-hari aku cari di antara rak-rak buku perpustakaan, sekarang duduk dihadapanku, berdua saja di meja sudut kantin kampus. Hampir separuh isi piringku berpindah ke perut, kutemukan kalimat pembuka yang tepat.
“Sendiri saja?”
“Em, tadi bertiga. Tapi dua temanku tergesa-gesa masuk kuliah lagi jam satu”
“Oh, begitu. Boleh kita kenalan?”, kataku seketika sambil mengulurkan tangan.
“Irin”, jawabnya sambil menyambut uluran tanganku.
Tak kusangka, dibalik sikap anggunnya seolah gunung es yang tak bisa digoyahkan, ternyata dia sangat ramah setelah kami berkenalan. Sangat menyenangkan bercakap-cakap dengannya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya ketika dia bicara ataupun mendengarkan aku berbicara. Hingga waktu satu jam kami lewati di kantin itu.
* * *
Aku tak tahu harus memulai dari mana untuk menyampaikan perasaanku. Irin bercerita tentang kegiatannya selama tiga hari ini di sanggar. Ada binar-binar di mata indahnya setiap kali dia bercerita tentang tari. Dia sangat menyukai kesenian itu, sejak kecil dia ikut sanggar hingga hari ini dia sudah berganti peran sebagai pelatih di sanggar itu. Beberapa kali aku menjemputnya ke sanggar ketika terlambat aku menjumpainya di kampus. Di sana aku  melihat gemulainya menari, melihat kesabarannya membenahi gerakan dari anak-anak kecil yang belajar di sanggar itu. Dan sekali aku berkesempatan melihatnya menari di atas pentas pada acara gebyar seni di kampusku. Hanya satu kata, takjub.
“Bagaimana kuliahmu?”
Tiba-tiba Irin membuyarkan lamunanku kembali dengan pertanyaan itu. Dari tadi aku hanya mendengarkan dia bercerita sambil mengenang kembali hari-hari yang sudah lewat. Aku gugup menjawabnya.
“Kamu kenapa, Ali? Dari tadi diam saja, melamun. Biasanya kamu banyak cerita kalau beberapa hari tidak ketemu aku. Ada apa?”
“Maaf Irin… aku ingin bicara banyak padamu, tapi bukan tentang aktivitasku”
“Lalu tentang apa?”
“Tentang perasaanku”
Akhirnya aku bisa menggiring percakapan ke arah yang kuinginkan. Sekarang kulihat Irin yang terdiam. Tertunduk  sambil sesekali membenahi rambut lebatnya yang tertiup angin. Cantik sekali.
“Aku terjebak perasaan tak tentu, sejak pertama kali melihatmu di perpustakaan waktu itu. Perasaan yang belum pernah kurasakan terhadap siapapun sebelumnya. Ada hasrat untuk bisa selalu bersamamu, ada di dekatmu. Itulah sebabnya tak pernah bisa aku berlama-lama untuk tidak menjumpaimu. Dan kini  aku ingin sampaikan bahwa aku ingin bisa memiliki hatimu. Sepenuhnya dan selamanya”
Lega rasanya bisa kulepaskan semua malam ini. Ada rona merah di pipi Irin. Bibirnya terkatup rapat. Aku mendesah berat melihat Irin tak bergeming. Dia hanya menggelengkan kepala ketika kuminta untuk menggungkapkan perasaannya padaku. Dia hanya tersenyum malu waktu aku katakan bahwa aku akan menunggu jawabannya. Beberapa saat terdiam dalam pikiran masing-masing. Lalu aku pamit untuk pulang karena malam telah larut. Kalau saja boleh, ingin aku tetap di sini hingga Irin mau menyatakan perasaannya. Tapi hingga aku beranjak dari dudukku, tidak juga Irin bergeming. Dan senyum manisnya mengantarku pulang malam itu. Senyum yang akan kujumpai lagi di mimpiku malam ini. Senyum yang kuharapkan akan bisa kumiliki selamanya.
* * *
Ada saja tugas kuliah dalam dua minggu ini yang membuat aku tak berkutik untuk menyempatkan sedikit saja waktuku untuk menjumpai Irin. Belum lagi rasa penasaran tentang jawaban yang akan kudapatkan darinya disaat kami bertemu nanti. Tergesa aku memasuki halaman rumah Irin. Ada debar-debar rindu teramat sangat. Ini waktu terpanjang aku tak melihatnya, sejak aku melukis wajahnya di dalam benakku.
Rasa kecewa seketika menyergapku ketika adiknya menyampaikan bahwa Irin sedang pergi untuk beberapa hari ke depan, dan disampaikannya sepucuk surat dari Irin. Aku melipat surat Irin dalam saku bajuku dan berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang aku diliputi rasa penasaran tentang surat ini. Ada apa gerangan Irin menulis surat segala.
 Sesampainya di rumah, aku segera masuk kamar, lalu kupandangi sampul surat tertulis  namaku itu. Perlahan kubuka dan kuambil lipatan kertas surat di dalamnya. Jantungku berdebar melihat tulisan rapi Irin memenuhi halaman kertas itu. Aku duduk di tempat tidur, bersandar dan mulai membaca surat Irin.
Assalamu’alaikum, Ali.
Maaf jika surat ini mengejutkanmu. Aku tahu kau akan datang untuk menanyakan kembali jawabanku atas perasaanmu dua minggu lalu.
Kalau saja lidahku tak tercekat kelu waktu itu, ingin rasanya aku menyampaikan hal yang sama, tapi entahlah…. Aku tak bisa dan akhirnya aku memilih untuk diam. Dan aku pun menunggumu datang kembali, untuk menyampaikan apa yang kau inginkan.
Tapi Al… ternyata keadaan berubah begitu cepat dalam hitungan waktu yang tak kukira. Seminggu lalu seorang teman  mengajakku mengikuti mentoring agama di salah satu pondok pesantren kota ini. Kebetulan saja jadwal menariku sedang longgar, dan ibuku mendorongku untuk ikut agar aku punya wawasan lain selain menari. Seminggu itu banyak sekali pertentangan bathin yang kualami, atas apa yang selama ini aku jalani dengan apa yang aku dapatkan di sana. Aku benar-benar terhanyut dalam aliran ketentraman yang belum pernah aku alami. Aku jatuh cinta pada syariat-syariat yang kupelajari di sana. Mungkin sama seperti saat kau merasakan jatuh cinta kepadaku, begitu cepat dan pekat menghunus kalbu.
Hidayah itu datang secepat kilat, pada waktu yang tak kutahu, pada tempat yang baru kukenal. Aku memutuskan untuk berhenti dari segala aktivitas menari, karena aku lebih mencintai hijabku. Sejak kukenakan sekedar mengikuti adat aturan pesantren, kini aku justru tak hendak melepasnya lagi. Ada  perasaan tentram di hatiku, aku seolah menemukan hidupku yang baru.
Oleh karena itu, maafkan aku jika aku tak bisa memenuhi inginmu sekarang. Masih banyak hal yang harus kita persiapkan untuk berani menyatukan hati dan rasa. Aku ingin menjadi lebih baik, aku ingin berhijrah sepenuhnya, agar suatu hari nanti di saat waktunya tiba, aku akan menemukan cintaku yang hakiki dengan cara yang benar.
Maafkan aku mengecewakanmu, tapi aku akan sangat berbahagia jika engkau pun memulai mennyiapkan dirimu menuju cinta yang hakiki. Aku tahu kau bisa mencari jalan menuju kesana.
Sekarang kita jaga hati kita masing-masing agar tak terjerumus pada perasaan yang salah. Jika suatu hari nanti kita berjodoh, yakinlah bahwa Alloh akan mempertemukan kita pada waktu yang tepat dengan cara terindah yang Dia rencanakan. Dan seandainya kita tak berjodoh, maka ini sungguh keputusan terbaik untuk tidak menjalin hubungan yang sia-sia.
Selamat berjuang mencari ridho-NYA…wahai Saudaraku.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Dariku : Irin

Aku linglung, tak tahu harus berpegang pada apa, harus bertanya kepada siapa? Keringat membasahi tubuhku selama aku membaca surat ini. Gemetar tanganku mencermati kata demi kata yang ditulis Irin. Air mataku meleleh dipipi, tanpa kutahu apa yang kutangisi. Karena tak mendapatkan Irin hari ini? Atau karena yakin bahwa aku juga sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangannya? Ada asa tergantung di sana. Ya…..asa yang sebenarnya bisa kuraih jika aku mau bersabar dengan waktu dan keadaan.  Perlahan aku terbaring, terlelap dalam tidur, sambil masih mendekap surat Irin di dadaku. Mencoba menerima  dengan iklas, dan merelakan untuk menggantungkan mimpiku.
Pagi yang kunanti datang begitu cepat. Gema shubuh membangunkanku dari mimpi tak bertepi. Kulipat surat Irin yang masih tergolek disampingku. Aku tak hendak membacanya lagi, cukup sekali saja. Lalu kusimpan rapat di laci almariku. Suatu saat kelak, mungkin aku perlu membacanya kembali sebagai penyemangatku. Bergegas aku turun dari tempat tidur, ke kamar mandi berwudlu kemudian mengikuti ayahku ke arah masjid. Ada tersirat heran di mimik muka beliau, biasanya aku sholat shubuh di rumah lalu kembali ke peraduan. Mulai hari ini aku harus berubah menjadi lebih baik. Mencari ridho Alloh seperti pesan Irin.
* * *
Perpustakaan belum terlalu ramai pada jam delapan pagi ini, aku harus mengembalikan buku yang kupinjam minggu lalu. Kemudian aku menuju rak buku di ujung untuk mencari literatur baru untuk tugasku minggu ini. Baru saja aku memilih buku, tiba-tiba terdengar olehku suara buku berjatuhan ke lantai disertai kalimat istiqfar terdengar kalut. Suara yang sangat kukenal. Reflek aku beranjak ke rak sebelah untuk mencari sumber suara itu. Kutemukan seorang gadis berkerudung putih dengan gamis hijau muda sedang sibuk memungut buku-buku yang jatuh. Entah kenapa langkahku terhenti dan urung membantunya. Jantungku berhenti ketika gadis itu beranjak berdiri dan menangkap tatapanku.
“Irin…”
Secepat kilat dia menundukkan pandangnya, mengembalikan beberapa buku ke rak, lalu berjalan cepat membawa dua buku ke arah loket peminjaman. Aku tak hendak mengejarnya. Aku sungguh takjub melihatnya, seperti takjubku dua bulan lalu di tempat yang sama. Tapi kali ini aku berusaha menahan diri untuk tidak mendekatinya. Kuhormati keputusan terbaik yang dipilihnya. Irin, jika ini jalan yang harus kutempuh, tak mengapa. Toh aku tak ingin jatuh cinta kepada gadis lain. Aku rela menunggu waktu terindah itu. Semoga Alloh mempertemukan kita kembali, suatu pagi nanti dalam keadaan yang tak lagi terhalang untukku memiliki cintamu.
Bantul, 3 Juni 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS