RSS

ILUSI




Terlalu naif jika aku menganggapmu nyata
Karena kenyataannya engkau bayangan semata
Pun kulukiskan engkau dalam wujud apa saja
Tak kan bisa menjelma menjadi ada

Berkali-kali aku tersadar
Dan berkali pula aku kembali tenggelam
Seolah engkau menyatu dalam angan
Toh semua hanyalah buaian

Kini biarkan aku lepas
Berhenti hanyut dalam gelombang
Sebab lelah hatiku menanti
Hadirmu pun tiada pernah pasti
Tak lagi mau aku terjebak ilusi
Dalam angan dan semunya mimpi
Hidup nyata lebih tentramkan hati
Bangkitkan diri kendalikan hati

Bantul, 4 Maret 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BINTANG DI LANGIT




Waktu senggang di kantor siang itu, seperti biasa digunakannya untuk bermain di dunia maya. Memperhatikan perkembangan dunia politik yang sedang panas menjelang pilpres. Baru kali ini saja pilpres menjadi sedemikian mempengaruhi segala aspek kehidupan warga negara. Lewat berbagai media orang berperang antar kubu demi kepentingannya masing-masing. Akun media sosial yang dimilikinya pun penuh dengan posting panas tentang pergerakan massa. Apalagi keberadaannya sebagai aktivis organisasi pekerja, membuatnya harus pandai-pandai menyembunyikan jati dirinya, demi keamanan jiwanya dan keluarganya.
Bosan bermain membaca masalah politik, dia mulai iseng mencari nama-nama teman lamanya. Beberapa nama diketik dan tak pula muncul akun yang dimaksud. Sampai pada detik ketika jari-jarinya menyentuh tombol-tombol huruf, menyusun sebuah nama panjang yang lama tak digubrisnya. Sejurus muncullah wajah yang tak asing baginya, masih sama seperti dulu. Tidak cantik tapi tak pernah jemu mata memandangnya. Disusurinya satu per satu info tentangnya. Memandang satu persatu fotonya, anaknya, keluarganya, dan segala kehidupannya. Ada sepercik rasa rindu untuk menyapanya, untuk berbincang kembali dengannya.
Sebuah akun baru dibuatnya untuk meminta pertemanan. Mudah ternyata, tak lama konfirmasi telah diperolehnya. Rupanya dia masih seperti dulu, suka berteman dengan siapa saja. Dari sekedar memantau postingnya, berkomentar hingga akhirnya berbincang di obrolan walau tersendat-sendat hingga berhari-hari.
“Apa kabar, Nda?”
“Baik. Kamu siapa? Apakah kita pernah kenal.”
“Iya. Kita teman lama.”
“Tapi aku tidak mengenal namamu, tidak ada fotomu, profilmu juga tidak kukenal.”
“Sengaja kusembunyikan, Nda”
“Ah…tidak adil. Aku tak tahu siapa kamu tapi kamu tahu siapa aku”
“Aku yang dulu sering di rumah tetanggamu, waktu kamu suka menyanyi………
 Oh….. Damainya hatiku, kala mentari bersinar lagi……”
“Aku lupa kalau dulu suka bernyanyi lagu itu”
“Dulu waktu kamu masih SMP. Aku yang pernah kamu beri permen berwarna merah”
“Aku dari kecil suka permen, dan sering berbagi dengan temanku”
“Hhmmm… kalau mawar yang kupetik dari pagar tetangga, ingat tidak?”
“Tidak juga”
“Semudah itukah kamu melupakan semuanya, Nda?”
“Maaf, aku benar-benar lupa. Siapa kamu sebenarnya?”
“Yang bercerita kepadamu tentang bintang di langit”
“Oh….. benarkah?”

Dan percakapan pun berlanjut pada telepon. Senang rasanya bisa mendengar kembali suara riangnya. Tak banyak yang berubah dalam dirinya, sebagaimana pula yang ada padanya. Sekali saja sudah cukup baginya, tak perlu terlalu sering karena itu akan menjadi racun dalam hatinya sendiri. Terkadang tak bisa dibendung keinginannya untuk mengirimkan beberapa video klip lagu kenangannya. Hingga suatu ketika terlontarkan kalimat pengungkapan isi hatinya. Sebuah jawaban pesan diterimanya, hingga tersadarlah dia akan keadaannya sekarang.
“Sadarlah kawan, itu masa lalu yang tak boleh kita ulang. Itu kenangan sekejap yang tak pernah bisa kita jadikan pedoman. Aku tak pernah terikat janji apapun denganmu, sebagaimana kamu tak pernah meninggalkan pesan apapun padaku. Jalan hidup sudah kita tempuh masing-masing. Jikalau kita bertemu kembali, ini adalah persahabatan, sama seperti masa kecil kita dulu”
“Iya, Nda. Terima kasih telah diingatkan. Namun ketahuilah bahwa selamanya bintang itu akan tetap bersinar di malam hari yang selalu menemani sang bulan, meskipun tak bisa berdekatan satu sama lain. Dan akan saling bersama-sama menerangi langit di dalam kegelapan, di sana.”

Lelaki  itu memutuskan untuk kembali bersembunyi dari jati dirinya. Menutup kembali cerita lama yang hendak dibukanya. Dunia yang sedemikian luas menjadi begitu sempitnya sehingga dia yang sudah terpisahkan jarak dan waktu, bisa kembali hadir mengganggu hatinya. Keindahan semu yang akan menghancurkan kebahagiaan hakikinya bersama istri dan anak-anaknya sekarang. Maka dihapuslah segala akses komunikasi yang memungkinkan baginya berjumpa kembali dengannya.
Malam yang gerah, membuatnya ingin keluar menghirup udara segar. Perlahan direbahkan tubuhnya di bangku teras tak beratap. Langit demikian syahdu, cahaya bulan terhalang awan berarak yang merendah. Di antara pergerakan awan, dilihatnya sebuah bintang berpijar sendirian. Jauh, meredup menemani lelapnya gulita.
Bantul, 27 Agustus 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS