= senja di dermagamu =
perempuan itu duduk di ujung dermaga, kedua kakinya menjuntai turun ke arah laut. kepalanya tegak menatap laut di depannya yang begitu tenang, damai, tanpa gelombang bergulung seperti pantai di kampungnya.
satu jam yang lalu dia baru sampai, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat pada sebuah nomor seluler yang hampir 25 tahun tak dihubunginya, semenjak pesannya yang terakhir tak terjawabkan.
"aku telah sampai di pantaimu, dan kini aku menunggumu di ujung dermaga"
tangan lelaki itu bergetar hebat menyentuh ponselnya, sebuah nama yang tak pernah terhapus di kontak maupun hatinya, meski seperempat abad lamanya dia berusaha melupakannya.
sebuah kesengajaan yang biasa baginya tak membalaskan pesan, hingga dia berfikir untuk kembali menunggu pesan darinya, meski sekedar bertanya kabar. dia lupa, bahwa perempuan itu masih menunggu balasan sapa rindunya, 25 tahun lalu.
tertatih, dengan mantel warna kelabu dan syal membelit leher keriputnya, dia menuju dermaga.
tangan rapuhnya berpegang pada pagar dermaga, mata rabunnya menemukan sosok yang masih menatap laut di ujung dermaga.
selangkah demi selangkah mematikan jarak mereka, tampaklah di depannya sosok mungil dengan punggung renta. angin sepoi meniup selendang ungu yang dikenakannya sebagai kerudung.
rambut putih itu kontras dengan warna hitam mantelnya.
lelaki itu bersimpuh pada lututnya yang bergetar, tepat di belakang punggung itu, jantungnya serasa lelah bertarung rasa, dan dengan susah payah dia berkata,
" kau kah itu?"
"iya. ini aku"
"untuk apa kau kemari?"
"untuk menikmati jingga di pantaimu, bersamamu. sebelum ajal menjemputku"
dan bahu itu berguncang hebat, di tangannya tergenggam selembar foto sunset dengan siluet lelaki di atas dermaga.







