RSS

KERETA KEMATIAN




Kereta itu berjalan menyusuri rel yang telah ditetapkan 

Berkeliling dunia dan akan berhenti di stasiun terakhir, alam baka

Mengantarkan para penumpangnya menjumpai Rabb

Pemilik semesta


Kalian ada di stasiun yang mana?


Aku di sini ...

Entah, apakah aku ingin kereta itu segera sampai ataukah berharap tak usah datang

Aah, tapi bukankah dia tetap akan datang?

Menghampiriku di stasiun ini dan mau tak mau aku harus ikut


Semakin lama waktu tungguku

Sesungguhnya aku diberikan kesempatan mengumpulkan lebih banyak bekal

Mengujiku apakah mampu memanfaatkan waktu untuk amar makruf

Ataukah menyia-nyiakan untuk berbuat munkar


Aaah ... 

Terkadang aku terlena dengan suasana 

Berfikir bahwa dia belum akan tampak

Pun terkadang berdebar-debar saat merasa ada pertanda kehadirannya yang semakin dekat


Kalian di stasiun yang mana?


Sudahkah siap jika kereta itu datang menjemput?

Sudahkah cukup bekal mu?

Sudahkan mempersiapkan mereka yang hendak kalian tinggalkan?


Kalian ada di stasiun yang mana?


Aku di sini ...

Duduk di bangku peron

Sambil sesekali menatap jauh ke ujung rel

Bukan berharap, tapi bersiap

Mungkin sebentar dia akan datang.


#ririhmay di Bantul pada 28 Agustus 2021  - 10.42

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEPADA KALIAN, YANG AKAN PERGI TANPA PERPISAHAN (untuk anak-anak yang lulus sekolah pada masa pandemi Covid 19)


Hari ini adalah yang sempat kita cita-citakan

Sebuah hari yang akan kalian sebut sebagai hari kemenangan
Hari di saat kalian sampai pada titik akhir sebuah perjuangan

Mungkin kalian telah memimpikan sebuah hari penuh persembahan
Yang kelak akan kalian kenang sebagai sebuah keindahan
Melepaskan masa putih abu-abu dengan rekah senyuman
Mempersembahkan hasil 
terbaik kepada orang tua dan guru

 

Pun aku ...
Seharusnya hari ini melepasmu penuh rasa bangga dan syukur
Sebanyak ingin menanti saat menyematkan tanda kelulusan
Menjabat erat tangan dan sebuah pelukan
Mungkin akan menjadi goresan terakhir sebelum kalian pergi meninggalkan gerbang
Sebuah lagu urung kudendangkan
Sebuah syair urung kubacakan

 

Kini, hanya goresan kenang yang kupersembahkan
Meski kalian pergi tanpa perpisahan
Tanpa berpamitan
Tanpa meninggalkanku sebuah kenangan-kenangan

 

Namun lihatlah ...
Hari ini kulepaskan kalian dengan sepenuh doa.
Sedikit yang terekam sepanjang perjalanan
Masih kusimpan dalam kenang.

 

#ririhmay
Selamat hari pendidikan, Indonesia ...!!!
Selamat lulus, putih abu-abu, 20 Mei 2020

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JALAN HIDUP



Setidaknya ...

Setiap orang punya catatan masing-masing tentang apa yang telah dilalui

Mengatakan berat bukan berarti tak kuat.

Mengatakan sulit bukan berarti tak bisa.

Mengatakan sedih bukan berarti kemudian berhenti bahagia.

Menangis bukan berarti lupa bagaimana tertawa

Pun mengalah, sabar dan iklas bukan berarti selamanya menyerah untuk dijajah

 

Seperti aku yang tetap berusaha berdiri tegar

Sedasyat apapun guncang dan gunjing di sekeliling.

Yang masih tetap menatap jauh ke depan

Meski langkah berat dan harus berhenti sesaat

 

Akan tiba waktunya untuk kembali berdiri tegap menatap masa depan

Melangkah pasti setelah bimbang di persimpangan

Dan kembali bersiap menyambut segala apa yang akan terjadi

Sebab sebagai hamba, aku sekedar melakoni.

 

Bantul, 1 Januari 2018

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

CINTA DALAM POTONGAN-POTONGAN TEMPE BACEM



Pagi baru saja bergulir, ketika perempuan itu menapaki jalan berbatu yang sedikit menanjak, untuk menjumpai seseorang  yang tinggal di rumah berjarak seratus meter dari tempat tinggalnya. Matanya berkeliaran mencari ke beberapa sudut halaman hingga manik mata itu menangkap sesosok yang dicarinya sedang menyapu mushola kecil di sudut halaman rumah. Dihampirinya dengan riang.

"Mas ... Anterin ke pasar"

 

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara  dari arah pintu mushola, tersenyum sekilas.

"Yo sik. Kuselesaikan ini sebentar ya?"

"Ya. Kutunggu di bawah ya?"

"Hmmm ..."

 

Lalu dia kembali menuruni jalan berbatu, menuju rumah tinggalnya, mengambil tas belanja dan dompet, kemudian duduk di beranda menunggu jemputan. Tak lama, yang ditunggu menghampiri dengan motor butut. Dicermatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Gak mandi?"

"Hahahha ... Masih ganteng"

"Iiiisssh ... Nyebelin"

"Yo wiis, gak sido aa ?"

"Aaaaa ...."

Sambil manyun, dia naik ke boncengan, meletakkan tas belanja di antara mereka.

"Bau. Kecuut ...!!"

"Biariiiin ..."

 

Motor itu perlahan menuruni jalanan berbatu, ada sekitar empat kilometer sebelum sampai pada jalan besar beraspal. Lelaki itu mengendarai dengan sangat hati-hati, dia ingin perempuan yang duduk di belakangnya itu merasa nyaman dan aman.

Pasar yang dituju berjarak sepuluh kilometer dari kampung mereka, dan itu adalah pasar terdekat yang buka hingga siang hari. Setelah memarkir motor, mereka masuk pasar melewati lorong-lorong di antara los-los sayur dan lauk. Lelaki itu membuntuti si perempuan sambil mengambil alih tas belanjaan yang mulai terisi separuh.

"Banyak banget beli tempe"

"Iya, mau kubacem"

"Bacem?"

"Iya"

"Seperti apa itu?'

"Nanti juga tahu"

 

Tak banyak tanya lagi, kemudian mereka pulang dan sesampainya di rumah langsung menuju dapur. Perempuan itu sibuk mengeluarkan isi tas belanjanya, semilah-milah bahan masak dan beberapa bumbu dapur. Sementara lelaki itu duduk di bale-bale bambu di sudut dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik si perempuan, sambil kadang-kadang tersenyum sendiri melihat tubuh langsing itu hilir mudik di dapur, duduk, berdiri, ambil ini dan itu.

"Mas, bantuin ngupas"

Lalu lelaki itu mengupas setumpuk tempe yang ditaruh si perempuan di dekatnya duduk, sambil disodorkan sebuah panci untuk menaruh tempe yang sudah dikupas. Sementara perempuan itu sibuk mengupas bawang merah, bawang putih, menggerusnya bersama butiran-butiran ketumbar dan beberapa gelintir kemiri. Memetik beberapa lembar daun salam di samping rumah, mencucinya dan memasukkan ke dalam panci yang berisi tempe, memasukkan bumbunya, garam, gula jawa dan menuangkan air hingga setengah panci. Kemudian dijerang di atas perapian setelah ditutup rapat.

"Jagain apinya, Mas. Jangan berlalu besar nanti gosong"

Sementara dia sibuk memotong kangkung, mencucinya hingga menumisnya. Sesekali dibukanya tutup panci sambil membolak-balik tempe agar bumbunya merata.

"Sudah  Mas, tolong diturunkan"

Sementara dia menyiapkan wajan dan minyak goreng di atas tungku. Lelaki itu mengerjap menghirup aroma manis saat panci dibuka.

"Hhhmmm ... Sedeep"

"Wis yaa, Mas nyium uapnya aja ya? Gak usah makan tempenya", selorohnya sambil tertawa

"Enak aja, gak kuantar ke pasar lagi besok"

"Halah, ngancam"

Kemudian tersaji di atas bale-bale bambu, sebakul nasi yang masih mengepul, semangkuk tumis kangkung, secobek sambel tomat, dan sepiring tempe bacem  yang sudah digoreng.

"Hhhmmm enake , Rek ..."

Lahap sekali lelaki itu menyantap habis isi piringnya. Dan matanya berbinar indah kala perempuan itu meletakkan dua potong tempe bacem lagi di piringnya.

"Ini kali pertama aku mengenal tempe bacem. Enak. Manis"

 

#ririhmay di Bantul, 7 September 2021 - 20.02

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS