RSS

CINTA DALAM POTONGAN-POTONGAN TEMPE BACEM



Pagi baru saja bergulir, ketika perempuan itu menapaki jalan berbatu yang sedikit menanjak, untuk menjumpai seseorang  yang tinggal di rumah berjarak seratus meter dari tempat tinggalnya. Matanya berkeliaran mencari ke beberapa sudut halaman hingga manik mata itu menangkap sesosok yang dicarinya sedang menyapu mushola kecil di sudut halaman rumah. Dihampirinya dengan riang.

"Mas ... Anterin ke pasar"

 

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara  dari arah pintu mushola, tersenyum sekilas.

"Yo sik. Kuselesaikan ini sebentar ya?"

"Ya. Kutunggu di bawah ya?"

"Hmmm ..."

 

Lalu dia kembali menuruni jalan berbatu, menuju rumah tinggalnya, mengambil tas belanja dan dompet, kemudian duduk di beranda menunggu jemputan. Tak lama, yang ditunggu menghampiri dengan motor butut. Dicermatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Gak mandi?"

"Hahahha ... Masih ganteng"

"Iiiisssh ... Nyebelin"

"Yo wiis, gak sido aa ?"

"Aaaaa ...."

Sambil manyun, dia naik ke boncengan, meletakkan tas belanja di antara mereka.

"Bau. Kecuut ...!!"

"Biariiiin ..."

 

Motor itu perlahan menuruni jalanan berbatu, ada sekitar empat kilometer sebelum sampai pada jalan besar beraspal. Lelaki itu mengendarai dengan sangat hati-hati, dia ingin perempuan yang duduk di belakangnya itu merasa nyaman dan aman.

Pasar yang dituju berjarak sepuluh kilometer dari kampung mereka, dan itu adalah pasar terdekat yang buka hingga siang hari. Setelah memarkir motor, mereka masuk pasar melewati lorong-lorong di antara los-los sayur dan lauk. Lelaki itu membuntuti si perempuan sambil mengambil alih tas belanjaan yang mulai terisi separuh.

"Banyak banget beli tempe"

"Iya, mau kubacem"

"Bacem?"

"Iya"

"Seperti apa itu?'

"Nanti juga tahu"

 

Tak banyak tanya lagi, kemudian mereka pulang dan sesampainya di rumah langsung menuju dapur. Perempuan itu sibuk mengeluarkan isi tas belanjanya, semilah-milah bahan masak dan beberapa bumbu dapur. Sementara lelaki itu duduk di bale-bale bambu di sudut dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik si perempuan, sambil kadang-kadang tersenyum sendiri melihat tubuh langsing itu hilir mudik di dapur, duduk, berdiri, ambil ini dan itu.

"Mas, bantuin ngupas"

Lalu lelaki itu mengupas setumpuk tempe yang ditaruh si perempuan di dekatnya duduk, sambil disodorkan sebuah panci untuk menaruh tempe yang sudah dikupas. Sementara perempuan itu sibuk mengupas bawang merah, bawang putih, menggerusnya bersama butiran-butiran ketumbar dan beberapa gelintir kemiri. Memetik beberapa lembar daun salam di samping rumah, mencucinya dan memasukkan ke dalam panci yang berisi tempe, memasukkan bumbunya, garam, gula jawa dan menuangkan air hingga setengah panci. Kemudian dijerang di atas perapian setelah ditutup rapat.

"Jagain apinya, Mas. Jangan berlalu besar nanti gosong"

Sementara dia sibuk memotong kangkung, mencucinya hingga menumisnya. Sesekali dibukanya tutup panci sambil membolak-balik tempe agar bumbunya merata.

"Sudah  Mas, tolong diturunkan"

Sementara dia menyiapkan wajan dan minyak goreng di atas tungku. Lelaki itu mengerjap menghirup aroma manis saat panci dibuka.

"Hhhmmm ... Sedeep"

"Wis yaa, Mas nyium uapnya aja ya? Gak usah makan tempenya", selorohnya sambil tertawa

"Enak aja, gak kuantar ke pasar lagi besok"

"Halah, ngancam"

Kemudian tersaji di atas bale-bale bambu, sebakul nasi yang masih mengepul, semangkuk tumis kangkung, secobek sambel tomat, dan sepiring tempe bacem  yang sudah digoreng.

"Hhhmmm enake , Rek ..."

Lahap sekali lelaki itu menyantap habis isi piringnya. Dan matanya berbinar indah kala perempuan itu meletakkan dua potong tempe bacem lagi di piringnya.

"Ini kali pertama aku mengenal tempe bacem. Enak. Manis"

 

#ririhmay di Bantul, 7 September 2021 - 20.02

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar