Pagi
baru saja bergulir, ketika perempuan itu menapaki jalan berbatu yang sedikit
menanjak, untuk menjumpai seseorang yang
tinggal di rumah berjarak seratus meter dari tempat tinggalnya. Matanya
berkeliaran mencari ke beberapa sudut halaman hingga manik mata itu menangkap
sesosok yang dicarinya sedang menyapu mushola kecil di sudut halaman rumah.
Dihampirinya dengan riang.
"Mas
... Anterin ke pasar"
Lelaki
itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara
dari arah pintu mushola, tersenyum sekilas.
"Yo
sik. Kuselesaikan ini sebentar ya?"
"Ya.
Kutunggu di bawah ya?"
"Hmmm
..."
Lalu
dia kembali menuruni jalan berbatu, menuju rumah tinggalnya, mengambil tas
belanja dan dompet, kemudian duduk di beranda menunggu jemputan. Tak lama, yang
ditunggu menghampiri dengan motor butut. Dicermatinya dari ujung rambut hingga
ujung kaki.
"Gak
mandi?"
"Hahahha
... Masih ganteng"
"Iiiisssh
... Nyebelin"
"Yo
wiis, gak sido aa ?"
"Aaaaa
...."
Sambil
manyun, dia naik ke boncengan, meletakkan tas belanja di antara mereka.
"Bau.
Kecuut ...!!"
"Biariiiin
..."
Motor
itu perlahan menuruni jalanan berbatu, ada sekitar empat kilometer sebelum
sampai pada jalan besar beraspal. Lelaki itu mengendarai dengan sangat
hati-hati, dia ingin perempuan yang duduk di belakangnya itu merasa nyaman dan
aman.
Pasar
yang dituju berjarak sepuluh kilometer dari kampung mereka, dan itu adalah
pasar terdekat yang buka hingga siang hari. Setelah memarkir motor, mereka
masuk pasar melewati lorong-lorong di antara los-los sayur dan lauk. Lelaki itu
membuntuti si perempuan sambil mengambil alih tas belanjaan yang mulai terisi
separuh.
"Banyak
banget beli tempe"
"Iya,
mau kubacem"
"Bacem?"
"Iya"
"Seperti
apa itu?'
"Nanti
juga tahu"
Tak
banyak tanya lagi, kemudian mereka pulang dan sesampainya di rumah langsung
menuju dapur. Perempuan itu sibuk mengeluarkan isi tas belanjanya,
semilah-milah bahan masak dan beberapa bumbu dapur. Sementara lelaki itu duduk
di bale-bale bambu di sudut dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik si
perempuan, sambil kadang-kadang tersenyum sendiri melihat tubuh langsing itu
hilir mudik di dapur, duduk, berdiri, ambil ini dan itu.
"Mas,
bantuin ngupas"
Lalu
lelaki itu mengupas setumpuk tempe yang ditaruh si perempuan di dekatnya duduk,
sambil disodorkan sebuah panci untuk menaruh tempe yang sudah dikupas.
Sementara perempuan itu sibuk mengupas bawang merah, bawang putih, menggerusnya
bersama butiran-butiran ketumbar dan beberapa gelintir kemiri. Memetik beberapa
lembar daun salam di samping rumah, mencucinya dan memasukkan ke dalam panci
yang berisi tempe, memasukkan bumbunya, garam, gula jawa dan menuangkan air
hingga setengah panci. Kemudian dijerang di atas perapian setelah ditutup
rapat.
"Jagain
apinya, Mas. Jangan berlalu besar nanti gosong"
Sementara
dia sibuk memotong kangkung, mencucinya hingga menumisnya. Sesekali dibukanya
tutup panci sambil membolak-balik tempe agar bumbunya merata.
"Sudah Mas, tolong diturunkan"
Sementara
dia menyiapkan wajan dan minyak goreng di atas tungku. Lelaki itu mengerjap
menghirup aroma manis saat panci dibuka.
"Hhhmmm
... Sedeep"
"Wis
yaa, Mas nyium uapnya aja ya? Gak usah makan tempenya", selorohnya sambil
tertawa
"Enak
aja, gak kuantar ke pasar lagi besok"
"Halah,
ngancam"
Kemudian
tersaji di atas bale-bale bambu, sebakul nasi yang masih mengepul, semangkuk
tumis kangkung, secobek sambel tomat, dan sepiring tempe bacem yang sudah digoreng.
"Hhhmmm
enake , Rek ..."
Lahap
sekali lelaki itu menyantap habis isi piringnya. Dan matanya berbinar indah
kala perempuan itu meletakkan dua potong tempe bacem lagi di piringnya.
"Ini
kali pertama aku mengenal tempe bacem. Enak. Manis"
#ririhmay di Bantul, 7
September 2021 - 20.02








0 komentar:
Posting Komentar