Waktu senggang di kantor siang itu, seperti biasa
digunakannya untuk bermain di dunia maya. Memperhatikan perkembangan dunia
politik yang sedang panas menjelang pilpres. Baru kali ini saja pilpres menjadi
sedemikian mempengaruhi segala aspek kehidupan warga negara. Lewat berbagai
media orang berperang antar kubu demi kepentingannya masing-masing. Akun media
sosial yang dimilikinya pun penuh dengan posting panas tentang pergerakan
massa. Apalagi keberadaannya sebagai aktivis organisasi pekerja, membuatnya
harus pandai-pandai menyembunyikan jati dirinya, demi keamanan jiwanya dan
keluarganya.
Bosan bermain membaca masalah politik, dia mulai
iseng mencari nama-nama teman lamanya. Beberapa nama diketik dan tak pula
muncul akun yang dimaksud. Sampai pada detik ketika jari-jarinya menyentuh
tombol-tombol huruf, menyusun sebuah nama panjang yang lama tak digubrisnya.
Sejurus muncullah wajah yang tak asing baginya, masih sama seperti dulu. Tidak
cantik tapi tak pernah jemu mata memandangnya. Disusurinya satu per satu info
tentangnya. Memandang satu persatu fotonya, anaknya, keluarganya, dan segala
kehidupannya. Ada sepercik rasa rindu untuk menyapanya, untuk berbincang
kembali dengannya.
Sebuah akun baru dibuatnya untuk meminta pertemanan.
Mudah ternyata, tak lama konfirmasi telah diperolehnya. Rupanya dia masih
seperti dulu, suka berteman dengan siapa saja. Dari sekedar memantau
postingnya, berkomentar hingga akhirnya berbincang di obrolan walau
tersendat-sendat hingga berhari-hari.
“Apa kabar, Nda?”
“Baik. Kamu siapa? Apakah kita pernah kenal.”
“Iya. Kita teman lama.”
“Tapi aku tidak mengenal namamu, tidak ada fotomu,
profilmu juga tidak kukenal.”
“Sengaja kusembunyikan, Nda”
“Ah…tidak adil. Aku tak tahu siapa kamu tapi kamu
tahu siapa aku”
“Aku yang dulu sering di rumah tetanggamu, waktu
kamu suka menyanyi………
Oh….. Damainya hatiku, kala mentari bersinar
lagi……”
“Aku lupa kalau dulu suka bernyanyi lagu itu”
“Dulu waktu kamu masih SMP. Aku yang pernah kamu
beri permen berwarna merah”
“Aku dari kecil suka permen, dan sering berbagi
dengan temanku”
“Hhmmm… kalau mawar yang kupetik dari pagar
tetangga, ingat tidak?”
“Tidak juga”
“Semudah itukah kamu melupakan semuanya, Nda?”
“Maaf, aku benar-benar lupa. Siapa kamu sebenarnya?”
“Yang bercerita kepadamu tentang bintang di langit”
“Oh….. benarkah?”
Dan percakapan pun berlanjut pada telepon. Senang
rasanya bisa mendengar kembali suara riangnya. Tak banyak yang berubah dalam
dirinya, sebagaimana pula yang ada padanya. Sekali saja sudah cukup baginya,
tak perlu terlalu sering karena itu akan menjadi racun dalam hatinya sendiri.
Terkadang tak bisa dibendung keinginannya untuk mengirimkan beberapa video klip
lagu kenangannya. Hingga suatu ketika terlontarkan kalimat pengungkapan isi
hatinya. Sebuah jawaban pesan diterimanya, hingga tersadarlah dia akan
keadaannya sekarang.
“Sadarlah kawan, itu masa lalu yang tak boleh kita
ulang. Itu kenangan sekejap yang tak pernah bisa kita jadikan pedoman. Aku tak
pernah terikat janji apapun denganmu, sebagaimana kamu tak pernah meninggalkan
pesan apapun padaku. Jalan hidup sudah kita tempuh masing-masing. Jikalau kita
bertemu kembali, ini adalah persahabatan, sama seperti masa kecil kita dulu”
“Iya, Nda. Terima kasih telah diingatkan. Namun
ketahuilah bahwa selamanya bintang itu akan tetap bersinar di malam hari yang
selalu menemani sang bulan, meskipun tak bisa berdekatan satu sama lain. Dan
akan saling bersama-sama menerangi langit di dalam kegelapan, di sana.”
Lelaki itu
memutuskan untuk kembali bersembunyi dari jati dirinya. Menutup kembali cerita
lama yang hendak dibukanya. Dunia yang sedemikian luas menjadi begitu sempitnya
sehingga dia yang sudah terpisahkan jarak dan waktu, bisa kembali hadir
mengganggu hatinya. Keindahan semu yang akan menghancurkan kebahagiaan hakikinya
bersama istri dan anak-anaknya sekarang. Maka dihapuslah segala akses
komunikasi yang memungkinkan baginya berjumpa kembali dengannya.
Malam yang gerah, membuatnya ingin keluar menghirup
udara segar. Perlahan direbahkan tubuhnya di bangku teras tak beratap. Langit
demikian syahdu, cahaya bulan terhalang awan berarak yang merendah. Di antara
pergerakan awan, dilihatnya sebuah bintang berpijar sendirian. Jauh, meredup
menemani lelapnya gulita.
Bantul, 27 Agustus 2014








0 komentar:
Posting Komentar