RSS

NAKULA TANPA SADEWA




Aku adalah Kunti. Ibu dari tiga ksatria bernama Yudhis, Bima dan Arjuna. Suamiku begitu mendambakan lima orang anak yang akan menjadi Pandawa Lima. Aku sudah tua dan telah lelah. Merasa tak sanggup untuk hamil dua anak lagi. Sementara aku tak ingin menghadirkan Madrim dalam rumah ini.
* * *
Dua garis merah pada test pack kehamilan yang kubeli di apotik siang tadi, memberi kepastian yang sungguh tak kuharapkan. Aku berlari ke kamar dan melemparkan test pack itu ke arah suamiku. Ada rasa terkejut di wajahnya dengan sikapku. Perlahan dia menghampiriku ke tepi ranjang.
“Tak seharusnya kamu bersikap seperti ini, ini kehendak Alloh”
“Aku tidak siap, aku tidak menginginkannya”, isakku semakin keras.
“Astagfirulloh..... istighfar, Kunti”
Aku tidak menggubris kata-kata suamiku. Ada terbersit rasa marah pada suamiku yang tidak mau memahami perasaanku. Sementara aku semakin tenggelam  pada rasa tak menentu, antara marah dan takut. Arjuna baru berumur sepuluh bulan dan bahkan belum teguh berjalan, haruskah dia kehilangan 14 bulan haknya terhadap air susuku dan bersiap mempunyai adik? Sementara Bima saja belum terlalu bisa menerima kehadiran adiknya itu. Bagaimana caraku mengatasi dua batitaku itu menghadapi adik baru untuk mereka? Jika sekarang saja aku sudah sedemikian repot dengan polah mereka, bagaimana dengan kehadiran satu bayi lagi? Aku tahu, suamiku menginginkan anak yang banyak, bahkan dia ingin aku seperti Kunti yang beranak lima ksatria. Tapi tidak dengan jarak sedekat ini, aku belum siap. Aku masih ingin menyelesaikan dua tahun masa menyusui Arjuna, seperti kedua kakaknya. Aku tak dapat berfikir panjang kecuali menangis atas keadaan yang tak kuingini.
Dalam isakku aku mengelus perutku dan berbincang kepada penghuninya, “Sungguh.......! Aku tak mengharapkan hadirmu, karena aku merasa hidupku telah cukup  tanpamu. Dan bahkan aku menganggapmu sebagai cobaan dalam hidupku ini. Tetapi, aku tak kuasa menolakmu dan  tak mampu menghapus keberadaanmu di hidupku. Aku tak bisa memaksamu pergi dariku”.
Enam minggu berlalu dalam kondisi tak tentu. Diamku telah membuat khawatir suamiku. Hingga dia sampai hati menawarkan aborsi jika aku belum juga iklas atas kehamilan ini.
“Tidak. Aku bukan pembunuh”, jawabku.
Namun justru dari sinilah aku mulai menyadari kesalahan sikapku. Rasa takut terhadap dosa besar telah menaungiku. Bersama guliran waktu yang terasa lambat, hati kecilku mulai menerima keadaaan. Hingga pada saat Arjuna genap berusia setahun, aku meminta diantarkan ke bidan untuk memeriksakan kandunganku.
“Aku akan punya adik lagi?”, kalimat girang itu muncul dari Yudhis.  Sulungku yang sejak kecil selalu mendambakan adik. Kulihat binar-binar indah di mata jernihnya ketika dia mencoba menyampaikan berita itu kepada kedua adiknya yang belum paham apa itu adik. Aku malu pada diriku sendiri, demi melihat sikap sulungku yang baru berusia  sepuluh tahun, sedemikian bahagia menyambut kehadiran calon adiknya yang ketiga.
Sehingga kini, akan ku menerimanya dengan iklas sebagai penyempurna indahnya hidup, sebagai nikmat dan amanah tak terperi. Perlahan kubisikan kata-kata melalui belaianku, “Kemarilah, Nak. Biar kurengkuh dan kupeluk engkau sepenuh cinta dan kasihku, dengan iklas dan sabar slalu. Agar kelak, engkau menjadi kebanggaanku,  tumpuan hari tuaku, pelipur laraku, sumber kebahagiaanku, menjadi cinta dalam hatiku. Mungkin benar bahwa cepat atau lambat, keinginan suamiku itu akan terkabul. Dan aku akan menjadikan Pandawa Lima lahir dari rahimku, tanpa Madrim.
* * *
Sore ini tubuhku terasa sangat lelah. Perlahan kubaringkan diri di tepian ranjang. Suhu tubuhku kurasakan semakin meninggi, sehingga aku merasakan ruas-ruas tulangku lunglai, tak sanggup menopang tubuh lemahku. Hingga menjelang isya, aku masih terbaring lunglai sambil menemani Arjuna yang sudah terlelap. Sementara Yudhis dan Bima pergi ke masjid bersama bapaknya untuk berjamaah isya.
Sayup-sayup kudengar bacaan sholat dari corong masjid yang tidak terlalu jauh dari rumahku, aku berusaha menghayati alunannya sambil menikmati rasa lemas yang menyerangku. Tiba-tiba aku merasakan panas mengalir di sela kedua pahaku. Apakah aku sudah tak mampu mengontrol saluran seniku? Bukankah usia kandunganku baru menginjak sepuluh minggu? Biasanya hal itu terjadi pada usia kehamilan menjelang kelahiran.  Terdorong rasa ingin tahu, perlahan aku bangun, sebentar kutengok Arjuna-ku yang terbuai mimpi indah.
Lalu aku turun dari pembaringan untuk menuju kamar mandi. Tapi panas yang kurasakan di seputar pahaku itu, terasa luruh mengikuti kedua kakiku saat aku berdiri, dan seketika kulihat darah segar mengalir dari sela kain panjang yang kukenakan. Aku terkesiap dan hampir terhenti nafasku. Apa ini? Darah...! Darah itu menggenang di lantai dan membuat tubuhku gemetar lalu lunglai. Aku menangis sejadi-jadinya, tapi siapa yang mendengarku? Aku merasa ajalku sedemikian dekatnya, namun hatiku berontak bahwa aku tak ingin mati sekarang. Aku harus hidup, demi anakku.
Sekuat tenaga aku meranggak menuju pintu depan, meninggalkan jejak berdarah di sepanjang lantai berwarna putih. Hingga di teras aku sudah tak sanggup merangkak. Aku mengumpulkan tenaga untuk sekedar memanggil tetanggaku, meminta pertolongan.
Budhe.....Budhe.....”, teriakku lirih.
Masih sempat kulihat tetangga sebelah berteriak histeris melihat kondisiku, sebelum akhirnya aku merasakan gelap dan ambruk.
* * *
Kamar putih dan dingin. Mataku terbuka perlahan, dan samar-samar bayangan terpampang di sekelilingku. Semakin jelas pandanganku,  aku berada di ruang bersalin praktek bidan. Suamiku di sini kananku, bidan di ujung pembaringan bersiap melakukan pemeriksaan pada rahimku. Kupejamkan kembali mataku, menyadari apa yang baru saja terjadi membuatku menangis. Dengan rasa tak rela, kubiarkan tangan bidan itu merogoh rahimku yang telah bersimbah darah.
“Maaf, sepertinya janin tak bisa dipertahankan”, kata bidan kemudian memerintahkan perawat asistennya untuk menyuntikkan obat peluruh. Aku menangis tersedu di pelukan suamiku hingga tak kurasakan saat jarum tajam itu menembus nadiku, mengalirkan cairan putih peluruh janin.
Semalam kulalui dengan mata yang tak mampu terpejam, menerawang mengembara di belantara resah tak berkesudahan. Rasa sesal terdalam begitu menyayat relungku. Mengapa di saat aku telah mencintainya sepenuh jiwaku, dia harus direnggut dari rahimku? Jika saja bisa, ingin aku kembali pada delapan minggu lalu, saat aku mengetahui diriku hamil dua minggu. Andai saja waktu itu aku menyambutnya dengan lapang hati dan penuh suka cita, tentu dia masih nyaman tidur di pelukan hangatku.
“Apakah jaringannya sudah keluar?”, tanya bidan pagi ini.
“Yang seperti apa?”, tanyaku.
“Gumpalan darah atau daging”
“Tidak ada”
Menurut bidan, harusnya gumpalan itu luruh bersama darah, lalu aku akan mengalami nifas sebagaimana orang melahirkan. Namun yang terlihat, darah yang mengalir pun semakin sedikit. Jangankan keluar  gumpalan daging, bahkan aku hanya seperti orang selesai haid. Bidan merasa menemukan kasus tak wajar, maka dirujuknya aku ke dokter ahli kandungan.
Dan dari hasil USG hari ini, dokter  memintaku menunggu seminggu lagi untuk observasi. Beliau tidak mau mengambil keputusan dari gambar yang tidak jelas. Di layar USG aku melihat rahimku seperti tertutup kabut, buram dan tidak jelas di mana letak jaringan janin yang dicari.
* * *
            Tiga hari yang lalu darahku telah benar-benar berhenti dan aku mulai menunaikan sholat. Mengapa tidak sesuai dengan perkataan bidan? Sementara orang-orang di sekitarku meributkan mengapa aku tak segera dikiret. Ada yang bilang bisa menjadi kanker rahim dan sebagainya. Segala yang kudengar membuatku semakin tenggelam dalam diam tak berkesudahan. Selera makan dan minum lenyap sama sekali sehingga tubuhku melemas dan aku dilarikan de rumah sakit. Infeksi telah menyerang lambungku hingga mengalami pendarahan, ditandai dengan pemeriksaan laboratorium terhadap tinjaku yang berwana hitam. Dokter penyakit dalam pun menyuntikkan obat untuk lambungku yang berdosis tinggi dengan takaran dua kali suntikan sehari selama 5 hari.
Hari ini aku teringat akan janji USG dengan dokter kandungan. Seminggu berlalu dalam penantian. Ada rasa takut dan was-was menyertaiku memasuki ruang periksa poli obsgyn bersama ibu dan seorang perawat bangsal tempatku dirawat. Dokter segera menempelkan alat USG ke perutku sambil menanyakan kondisi nifasku. Beberapa menit terlihat layar USG menggambarkan kondisi rahimku. Bersih tanpa kabut seperti seminggu lalu.
“Subhanalloh..... janin ibu kembar. Yang satu masih hidup”
Serta merta aku, ibuku dan perawatku tersentak dan bertasbih atas ucapan dokter itu. Berempat kami memperhatikan layar USG sambil mendengarkan keterangan dokter. Terlihat di dalam rahimku ada jaringan berbentuk hati dengan dinding penyekat tepat di tengahnya. Satu bilik kosong dan di bilik yang lain terdapat satu janin masih berpegang erat pada dindingnya. Anakku...!
Aku menangis haru  dalam rengkuhan ibuku. Bagaimana mungkin, janin mungil itu mampu bertahan setelah diserang dengan obat peluruh, ditambah enam suntikan obat lambung yang seharusnya tak boleh diberikan kepada ibu hamil. Apa mau dikata? Tak ada yang salah, dokter penyakit dalam pun hanya membaca rekam medis bahwa aku telah keguguran. Dan kini dokter kandungan hanya menganjurkan aku memantau perkembangan janinku dua minggu sekali. Segala kemungkinan buruk atas janinku akan kuterima dengan iklas. Kekhawatiran dokter atas suntikan itu, yang bisa mengakibatkan janinku cacat, atau justru bangkai saudaranya yang bisa meracuninya. Sementara tindakan kiret tak mungkin dilakukan karena mereka ada dalam satu jaringan.
Pasrah. Hanya itu yang bisa kulakukan. Percaya atas takdir indah yang telah digariskan. Kini, aku persiapkan diriku untuk menerima kehadiran anakku dengan segala resiko. Aku lanjutkan kehamilanku dalam kondisi lemah dan sakit. Tak sembarang makanan bisa dicerna oleh lambungku yang telah luka, sementara anakku masih butuh asupan nutrisi untuk tumbuh.
* * *
            Lima belas Maret jam dua siang. Bayiku lahir dengan perjuangan terberat. Nafasku hampir berhenti saat kepalanya belum sempurna keluar dari mulut rahim. Kesigapan bidan menjemput bayiku dengan tangannya, telah menyelamatkannya dari resiko besar. Ditelungkupkan bayi merah yang masih berlumur darah dan lendir itu di atas dadaku. Bapaknya membersihkan tubuh mungil itu dengan handuk lembut, sementara aku membelai rambutnya yang ikal tebal dan masih basah. Bahagiaku buncah demi menyaksikan anakku lahir sempurna. Sementara janin yang tak tumbuh menjadi bayi itu, turut terlahir berupa gumpalan daging setelah sembilan bulan berada dipelukan saudara kembarnya.
* * *
Aku adalah Kunti, ibu dari lima ksatria. Hari ini aku telah mewujudkan keinginan suamiku untuk memiliki Pandawa Lima. Meskipun tanpa Madrim dan Nakula pun terlahir tanpa Sadewa.

Bantul, 10 Mei 2015 (00.45WIB)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar