RSS

KEPADAMU, DENGAN SEPENUH HATI.....



SURAT KEPADA IBU DAN BAPAKKU
Bantul, 30 Juli 2015
Kepada yang kucintai:
Ibu dan Bapakku.
Jemariku tak selincah biasanya ketika berada di atas papan ketik. Kali ini laksana ranting-ranting rapuh yang yang hendak meyentuh tanah, kaku dan tak berdaya. Entah karena apa? Mungkinkah karena sudah belasan tahun aku tak lagi menulis surat untuk Ibu dan Bapak. Seingatku, terakhir kutulis surat pada saat aku masih menuntut ilmu di perantauan. Waktu aku akan menempuh ujian yang terakhir sebelum kelulusanku, tujuh belas tahun yang lalu.
Dan dalam kurun waktu tujuh belas tahun itu, aku lebih sering berada di dekat kalian. Tak lagi dengan surat aku bertutur kepada kalian, namun dengan bertatap muka atau menggunakan alat komunikasi yang saat ini sudah semakin canggih jika aku sedang tak berada di rumah. Maka ada rasa canggung ketika hari ini aku ingin menuliskan surat kepada Ibu dan Bapak.
Ibu dan Bapak..... Kepadamu, dengan sepenuh hati, anakmu ingin kembali bercerita tentang perjalananku menempuh hidup ini. Bukan lagi tentang mata kuliah yang sulit kupahami, bukan lagi tentang tugas yang bertubi-tubi, bukan lagi tentang nilai ujian yang tak sesuai targetku, bukan lagi tentang teman-temanku, bukan lagi tentang sedihnya sakit di perantauan dan bukan pula cerita tentang pacar.
Kali ini aku ingin bercerita tentang cucu-cucu kalian, tentang sifat mereka yang beragam, tentang masalah yang bertubi-tubi datang, tentang perbedaan keinginan antara aku dan anak-anakku. Tak sedekar sikap lucu mereka semasa kecil yang mampu membuatmu tertawa terkekeh-kekeh, atau kebandelan mereka yang terkadang harus membuat Ibu sedikit berteriak lantang, kemudian merasakan pusing kepala sebelah.
Tiga belas tahun usia si sulung, bukan berarti aku telah mumpuni menjadi orang tua. Namun justru saat inilah aku baru mulai merasakan beratnya menjadi orang tua. Kini, aku tidak sekedar berkutat dengan masalah membeli mainan, susu, dan jajan. Tidak lagi melerai pertengkaran karena berebut sepeda dan roti. Tidak lagi sekedar berusaha membujuk tangis si adik saat sang kakak mulai usil. Semua hal itu sudah terbiasa bagiku. Jika dulu aku masih banyak mengeluh kepada Ibu tentang semua itu, maka kini aku sudah mampu mengatasinya sendiri.
Tahun ini, ketika si sulung harus melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama setelah sekolah dasar, aku merasakan adanya pertentangan-pertentangan batin bertubi-tubi. Dari sejak pelaksanaan ujian akhir, saat kelulusan dan terakhir pada pemilihan sekolah lanjutan. Adanya perbedaan keinginan, harapan, pandangan dan alasan antara aku dan anakku dalam memilih sekolah, menyebabkan kami sering terlihat perdebatan sengit, yang kan diakhiri masing-masing menangis dalam marah. Saat itulah aku ingin berlari pulang dan menjumpai Bapak. Teringat dulu betapa aku selalu menerima  pilihan Bapak untuk sekolah yang akan kutempuh. Dan yang aku tahu, aku selalu memperoleh tempat yang tepat untukku, karena aku yakin bahwa Bapak selalu memilihkan yang terbaik untukku. Begitu pun inginku saat ini, untuk anakku.
Saat itu, berhari-hari kulalui dalam gundah. Perhatianku tertuju kepada si sulung hingga adik-adiknya harus rela atas kondisi tersebut. Dan motivasi luar biasa kudapatkan saat Ibu dan Bapak selalu ada, tak hanya doa untuk cucunda, namun juga nasihat yang sangat berharga sehingga anakku mampu luluh hatinya. Hingga kini dia telah memperoleh sekolah yang tepat untuknya.
Ibu dan Bapak, Kepadamu dengan sepenuh hatiku, tak akan cukup terima kasih yang kuhaturkan, tak akan pernah cukup maaf yang kupintakan. Dan tak kan pernah cukup pula syukur yang kupanjatkan bahwa hingga hari ini saat aku telah menjadi orang tua untuk anak-anakku, aku masih memiliki Ibu dan Bapak. Aku masih bisa menikmati indahnya menjadi anak, di saat banyak anak-anak kecil telah menjadi yatim piatu.
Ibu dan Bapak, semoga selalu dalam lindungan rahmad-Nya, selalu diberikan kesehatan di hari tua ini, dan maafkan anakmu jika belum mampu menjadi sepenuhnya yang kau harapkan semasa kecilku dulu.
Kepadamu, Ibu dan Bapakku.... dengan sepenuh hati kusampaikan rasa cintaku.
Dari anakmu,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar