RSS

SUMPAH PEMUDA









28 Oktober. Aku tersenyum lebar manakala mataku menatap tanggal itu di kalender meja kerjaku. Ide nakal selalu saja menggangguku untuk segera mencolek teman SMA-ku, Lili. Kubuat status di media sosial, “Sumpah Pemuda lagiiii….—bersama Lili Dayamanti”.
Setiap tanggal 28 Oktober, aku selalu teringat kejadian duapuluh satu tahun yang lalu. Waktu itu aku dan Lili duduk di kelas satu SMA. Seperti biasa, setiap ulangan umum kami duduk sebangku dengan siswa dari jenjang kelas lain. Semester satu kami sebangku dengan kakak kelas tiga, dan semester dua kami sebangku dengan kakak kelas dua. Lili duduk di meja sebelahku, kami sama-sama mendapat teman duduk laki-laki. Dan keduanya sama-sama pendiam, tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang selalu ramai dengan segala macam canda mereka.
Beberapa hari berlalu dengan tenang, tidak pernah ada komunikasi di antara aku dan teman dudukku selama ujian berlangsung. Seandainya berkomunikasi hanya sekedar urusan meminjam alat tulis, biasalah anak laki-laki, persiapan alat tulis tak selengkap perempuan. Aku hampir tak pernah mendengar suaranya. Karena kami lebih sering menggunakan bahasa isyarat, supaya tidak mengganggu ketenangan ujian. Sudah jadi prinsipku untuk mengerjakan ujian secara jujur dan mandiri. Kulihat Lili juga bertahan pada prinsip yang sama. Walaupun sesekali kulihat keningnya berkerut beberapa lama, pertanda dia sedang berfikir keras tentang soal ujian yang dihadapinya.
Hingga tibalah pada suatu hari saat pelajaran sejarah. Waktu itu materi kelas satu adalah sejarah dunia, mengenai zaman  prasejarah dengan segala cerita tentang manusia purba. Sementara materi kelas dua tentang sejarah Indonesia pada zaman perjuangan kemerdekaan. Tiga puluh menit menjelang waktu ujian berakhir, kulihat teman di sebelahku mulai resah. Berkali-kali dia mengerutkan kening, membolak-balik kertas soal seolah mencari kalimat-kalimat yang mungkin bisa menolongnya mengerjakan beberapa soal uraian. Sedangkan aku asyik mengulang beberapa soal yang aku masih meragukan jawabanku. Tiba-tiba dia berbisik menanyakan sesuatu kepadaku, hampir tak terdengar olehku.
Aku memberikan isyarat agar dia mengulangi pertanyaannya. Kemudian dia menggeser soal ujiannya lebih dekat kepadaku, dan melingkari salah satu nomor. Aku membaca soal itu, “Sebutkan bunyi ikar Sumpah Pemuda”.  Aku tidak bisa menahan tawaku walau dengan volume yang kutekan serendah mungkin hingga membuatnya menarik kembali kertas soalnya. Entahlah kenapa aku geli bahwa yang ditanyakan adalah hal yang seringkali kita dengar. Parah anak ini, bunyi ikrar Sumpah Pemuda saja lupa. Tapi akhirnya aku kasihan juga, soal uraian biasanya mempunyai bobot nilai besar, jika satu saja tak terjawab maka akan mengakibatkan nilai jatuh. Apalagi dia sampai rela menjatuhkan gengsinya dengan bertanya kepadaku, adik kelasnya. Rasa iba muncul di menit-menit terakhir waktu ujian, lalu kutarik perlahan soal ujiannya, kutuliskan tiga kalimat ikrar Sumpah Pemuda pada halaman kosong disebalik soal.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu
Tanah Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu
Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, menjujung bahasa persatuan
Bahasa Indonesia.
Kuangsurkan kembali kertas itu kepadanya, dan kulihat senyum termanis darinya. Aku tak bisa menahan tawaku, maka aku memilih untuk segera mengumpulkan lembar jawabanku dan keluar ruangan. Sempat kulirik Lili yang menatapku dengan pandangan penasaran. Lima menit aku menahan tawaku di luar kelas, Lili menyusulku dengan pertanyaan
“Apa sih…? Dari tadi tertawa sendiri”
Lalu aku menceritakan kejadian itu pada Lili. Tak elak kami berdua tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi Lili berkomentar,
” Aduuuh…. Si mas cakep tidak tahu  sumpah pemuda?”
Tawa kami tambah keras, dan tiba-tiba terhenti karena dia yang kami bicarakan keluar ruang ujian. Seketika kami menutup mulut dengan telapak tangan, mengambil tas dan berlari ke arah parkir sepeda. Entah kekonyolan apa yang sudah kami perbuat hari ini, mentertawakan orang yang tidak bisa menjawab soal ujian. Dan cerita itu menjadi bahan pembicaraan kami sepanjang perjalanan pulang.
= = = =
Tepat pukul dua belas siang, pasienku habis dan aku bernafas lega. Kusandarkan tubuhku ke sandaran kursi kerjaku, sambil kubuka kembali ponselku untuk sekedar melihat beberapa pemberitahuan dari media sosial. Senyumku melebar ketika kutemukan pemberitahuan dari akun Lili mengomentari kirimanku tadi pagi. Segera kubuka dan menemukan kalimat singkat yang bisa membuatku tersenyum lebar, lalu melanjutkan obrolan lewat kolom komentar.
“Ingat PW lagi….. J”, begitu selalu Lili menulis namanya.
“Hahahhaa… ternyata sang waktu tidak bisa menghapus cerita konyol itu”
“Ceritamu yang kemudian menyeretku hanyut dalam arusmu”
“Karena aku tak bisa menjadi tokoh tunggal, Li. Denganmu jadi lebih hidup”
“Kau pikir aku peran pembantu?”
“Bukan…. Tapi figuran”
“Haahhahahaaa….. karena tokoh utama tak pernah bersuara”
“Betul. Senyumnya sudah mewakili sejuta kata”
“Apa kabarnya dia, ya…?”
“Aku juga tak tahu. Biar saja jadi kenangan. Tidak perlu dicari”
Dan percakapan kami terhenti, mungkin Lili sedang sibuk di sana, sehingga dia tiba-tiba off-line setelah menuliskan komentar terakhirnya. Kututup ponselku dan beranjak menuju masjid di ujung Rumah Sakit.
Bantul, 14 Agustus 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar